Jumat, 04 Oktober 2019

DUA YANG TERJAGA


Oleh: TIM JAN

Al-Quran Bicara Soal Wanita Ini

Sumber paling benar yang patut kita rujuk adalah Al-Quran. Kisah kedua wanita ini telah diabadikan oleh Allah ta’ala di dalam al-Quran. Merekalah dua yang terjaga, Sarah dan Hajar. Bukalah mushaf kalian, lalu cermati ayat-ayat berikut; QS. Ash-Shaffat: 100, QS. Al-Anbiya’: 71-73, QS. Al-Ankabut: 26-27, QS. Hud: 69-73, QS. Al-Hijr: 51-56.

Tentang Sarah
Menurut riwayat yang mashur Sarah adalah saudara sepupu Ibrahim, dia adalah putri pamannya yang bernama Harran.

Namun Ibnu Katsir dalam Kisah Shahih Para Nabi berkomentar, pendapat yang mengatakan Sarah putri saudara Ibrahim  yang bernama Harran, dan saudara perempuan Luth, sebagaimana yang dikisahkan as-Suhaili dari Al-Qutaibi dan An-Nuqqasy, maka dia benar-benar telah menyimpang. Orang yang beranggapan bahwa menikahi anak saudara pada saat itu merupakan suatu  hal yang disyariatkan, maka yang demikian itu merupakan suatu yang tidak berdalil sama sekali. Seandainya hal itu merupakan suatu yang disyariatkan pada saat itu, sebagaimana yang dinukil dari pendeta Yahudi, sesungguhnya para nabi tidak melakukannya. Wallahu a’lam.

Sebagian ulama mengatakan, ada tiga nabi wanita, “Sarah, ibu Musa, dan Maryam.” Namun menurut jumhur, mereka adalah wanita-wanita yang benar keimanannya. Begitu Ibnu Katsir menyebutkan dalam kitabnya.

Sarah adalah wanita yang kecantikannya luar biasa. Menurut salah satu riwayat, setelah Hawa, tidak ada seorang pun yang lebih cantik dari Sarah. Segala puji dan karunia hanya bagi Allah.

Dari Sarah akan terlahir Ishaq, dari Ishaq akan lahir Ya’qub, Ya’qub adalah Israil, yang darinya akan terlahir bangsa yang besar.

Tentang Hajar

Hajar al-Mishriyyah. Hajar adalah wanita Mesir. Hajar adalah seorang  budak raja Mesir yang lalim, yang nanti dihadiahkan kepada Sarah.  Dr. Hamid Ahmad ad-Thahir dalam kitabnya Kisah-Kisah dalam Al-Quran menjelaskan wanita Mesir memiliki karakter tersendiri yang tidak terlepas dari mereka. Karena sejak kecil mereka terbiasa meminum air sungai nil yang berasal dari surga, sehingga raut wajah muda berkelip di wajah mereka, termasuk Hajar.

Dari Hajar inilah akan lahir Ismail. Ismail adalah cikal bakal bangsa Arab, yang kelak akan diutus seorang Rasul, dialah penghulunya orang-orang terdahulu dan yang akan datang yaitu Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

Kesetiaan Mendampingi Suami Hijrah

Berawal dari keluarnya Ibrahim dari negeri kaumnya; Babilonia di Irak, karena berbagai peristiwa telah Ibrahim alami, mulai dari penolakan akan dakwahnya sampai peristiwa pembakaran atas diri Ibrahim. Ibrahim pun berhijrah  bersama keponakannya yang bernama Luth bin Harran bin Azar, serta istrinya yang bernama Sarah. Sarah adalah wanita yang mandul, sehingga mereka berdua belum dikaruniai seorang anak. Inilah skenario yang Allah hendak berikan kepada Ibrahim, bahwa tidak lama lagi dia akan memiliki keturunan yang shaleh-shaleh. Kelak setiap nabi dan rasul yang Allah utus, semua adalah keturunan dari Ibrahim.  

Ibrahim hijrah ke Negeri yang Kami telah memberkahinya (QS. Al-Anbiya’: 71). Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsirnya menjelaskan negeri tempat Ibrahim hijrah adalah Syam, sebuah negeri yang disucikan sebagiannya, (dan sebagian yang suci itu) adalah Baitul Maqdis. Namun, akhirnya mereka harus pindah ke Mesir, karena Baitul Maqdis mengalami kekeringan, kesulitan dan harga barang-barang sangat mahal, akhirnya Ibrahim bersama yang lain memilih Mesir.

Sarah yang Terjaga dan Hadiah Agung

Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa, Ibrahim tidak pernah berdusta kecuali tiga kali. Pertama, ketika Ibrahim mengatakan, “Sesungguhnya, aku sakit”  (QS. Ash-Shaffat: 89), dan kedua, “Sebenarnya patung besar itu yang melakukannya.” (QS. Al-Anbiya’: 63). Ketiga, Ketika Ibrahim dan Sarah tiba di negeri Mesir, tiba-tiba datanglah seorang raja yang lalim. Ada yang mengatakan kepadanya, “Di sini ada seorang lelaki yang membawa wanita yang amat cantik”. Raja pun menghampiri dan bertanya kepada Ibrahim soal wanita tersebut. “Siapa dia?” Ibrahim menjawab, “Dia saudariku.” Lalu Ibrahim menemui Sarah dan berkata, “Sarah! Di muka bumi ini, tidak ada seorang mukmin pun selain aku dan kamu. Si Raja itu bertanya kepadaku, lalu aku berkata kepadanya bahwa kamu adalah saudariku. Untuk itu janganlah kamu mendustakan aku.“

Raja mengirim utusan untuk memanggil Sarah. Setalah Sarah masuk, Si Raja berusaha meraih Sarah dengan tangannya, namun dia tertimpa petaka. Si Raja berkata, berdoalah kepada Allah untuk kesembuhanku, aku berjanji tidak akan menyakitimu.” Sarah berdoa kepada Allah dan raja pun terbebas dari petaka. Lalu, bukannya kapok, Si Raja mengulangi perbuatannya, peristiwa yang sama pun terjadi. Si Raja kemudian memanggil salah seorang ajudannya dan berkata, “Yang kalian bawa ini bukan manusia, tapi setan.” Raja kemudian menghadiahkan Hajar kepadanya sebagai pelayan.

Sarah kemudian pulang. Dia menemui Ibrahim yang saat itu sedang shalat. Ibrahim berisyarat dengan tangannya seakan bertanya bagaimana kondisinya. Sarah berkata, “Allah balikkan tipu daya orang kafir sehingga berbalik menimpa dirinya sendiri, dan dia menghadiahkan Hajar kepadaku sebagai seorang pelayan.”

Dalam riwayat lain, ketika Si Raja menghampiri Sarah, maka Sarah berwudhu, shalat, dan berdoa, “Ya Allah, jika Engkau mengetahui aku beriman kepada-Mu  dan rasul-Mu, maka jagalah kemaluanku kecuali untuk suamiku, jangan Engkau memberi kuasa pada orang kafir itu (untuk mengusikku)”.

Dr. Hamid Ahmad ad-Thahir mengatakan bahwa raja lalim itu adalah Fir’aun Mesir. Ibnu Katsir mengatakan, yang dimaksud raja itu adalah saudara Dhahhak, seorang raja yang terkenal lalim. Dia adalah penguasa Mesir yang berada di bawah kendali kakaknya. Namanya Sinan bin Ulwan bin Uwaij  bin Amalaq bin Lawadz bin Sam bin Nuh. Sementara itu, Ibnu Hisyam mengatakan, namanya Amr bin Umru ‘ul Qais bin Mailun bin Saba’. Wallahu a’lam.

Hajar Adalah Bukti Janji Allah

Ibrahim, Sarah dan Hajar akhirnya kembali ke Syam. Sarah tahu bahwa dirinya mandul. Ibrahim pun senantiasa berdoa kepada Allah agar dikaruniai keturunan. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. (QS. Ash-Shaffat: 100). Allah memberikan kabar gembira kepada Ibrahim kalau akan terlahir seorang anak. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (QS. Ash-Shaffat: 101). Melalui Hajar, Allah akan memenuhi janjinya kepada Ibrahim. Sungguh indah skenario yang Allah buat.

Hajar adalah wanita Mesir, sebagaimana kami sebutkan di awal. Maka raut wajah muda Hajar memunculkan ide dalam benak Sarah; menagapa Hajar tidak menikah dengan Ibrahim? Agar Allah memberikan keturunan yang shaleh seperti yang Allah janjikan kepadanya, dan sangat didambakan Ibrahim, dan selalu diminta siang dan malam. Ide brilian itu -dan tentu ini bagian dari ketetapan Allah- dilaksanakan oleh Sarah. Tidak lama berselang, Hajar pun hamil dan anak yang Allah janjikan akhirnya lahir, dialah Ismail.

Kecemburuan Sarah dan Ketaatan Hajar

Sarah pun tetap belum Allah karunia anak. Meski Sarah sendiri yang telah menyerahkan Hajar kepada Ibrahim, tetap saja namanya wanita sifat cemburu pasti melekat padanya. Kecemburuan Sarah semakin menjadi. Sarah pun meminta Ibrahim membawa Hajar pergi sehingga wajahnya tidak terlihat oleh Sarah. Maka Ibrahim membawa Hajar pergi bersama anaknya, Ismail. Kemudian, Ibrahim bersama Hajar dan anaknya melintasi berbagai tempat, hingga akhirnya Ibrahim meletakkan keduanya di tempat yang sekarang disebut sebagai kota Makkah.

Setelah Ibrahim meninggalkan keduanya dan melangkah pergi, Hajar mengejarnya dan menarik bajunya seraya berkata, “Hai Ibrahim, kemana engkau hendak pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di sini sementara kami tidak mempunyai bekal yang cukup?” Namun Ibrahim tidak menjawabnya. Tatkala Hajar terus mendesak dan Ibrahim tidak juga menjawab, maka Hajar pun bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu?” “Ya,” jawab Ibrahim. “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” Lanjut Hajar.
   
Balasan Atas Jerih Payah Sarah

Sementara itu Sarah pun telah sekian lama menanggung beban berat berupa siksaan dan gangguan bersama sang suami; hamba kesayangan Allah. Sehingga Allah berkehendak untuk membalas kebaikannya, dan menambah keturunan al-Khalil Ibrahim.

Dan Kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim. Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan: "Salaam". Berkata Ibrahim: "Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu". Mereka berkata: "Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim". Berkata Ibrahim: "Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku Padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?" Mereka menjawab: "Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa". Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat". (QS. Al-Hijr; 51-56)

Sarah pun hamil lalu melahirkan anak yang alim; Ishaq, hingga membuat Sarah dan Ibrahim gembira. Sayang rasa gembira yang memenuhi rumah Ibrahim tidak bertahan lama, dan dua anak bersaudara ini tidak akan dirawat secara bersama-sama; karena masing-masing akan dirawat di tempat yang berbeda.

Referensi:
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Tafsir Al-Quran, 2015, Jakarta: Darul Haq.
Al-Hafidz Ibnu Katsir, Kisah Shahih Para Nabi Jilid 1, 2019, Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syai’i.
Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar, Kisah-Kisah Nubuat Dari Nabi, 2017, Jakarta Timur: Umul Qura.
Dr. Hamid Ahmad Ath-Thahir, Kisah-Kisah dalam Al-Quran, 2019, Jakarta timur: Umul Qura.
Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi; Kisah 31 Nabi Dari Adam Hingga Isa, 2013, Jakarya Timur; Ummul Qura



Tidak ada komentar:

Posting Komentar