Minggu, 20 Oktober 2019

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN: THE MA’RIFAH SEEKERS


Oleh: TIM JAN

Al-Qur’an Bicara Tentang Ilmu

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (QS. Fathir: 28)

As-Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya, ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan tingginya kautamaan ilmu, sebab ilmu mengajak takut kepada Allah, dan orang-orang yang takut kepada-Nya adalah orang-orang yang dianugerahi karamah. yaitu “Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (QS. Al-Bayyinah: 8).

Banyak ayat-ayat lain dalam Al-Quran yang mengabarkan kepada kita tentang tingginya kedudukan ilmu. Silahkan buka Al-Qur’an kalian, lalu cermati dengan seksama surat Thaha ayat 114, Az-Zumar ayat 9, dan Al-Mujadilah ayat 11.

Rasulullah Menganjurkan Untuk Menuntut Ilmu

Dari Abu-Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia menuturkan, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ingatlah, sesungguhnya dunia ini dilaknat, dilaknat pula segala sesuatu yang ada di dalamnya kecuali berdzikir kepada Allah dan apa saja yang serupa itu, juga orang alim serta orang yang menuntut ilmu.” Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dengan sanad Hasan.

Syaikh Musthafa Dib Al-Bugha menjelaskan bahwa hadits ini merupakan anjuran menuntut ilmu dan mengajarkannya, agar dapat mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh rahmat-Nya.

Selain itu, Rasulullah juga kabarkan tentang ganjaran bagi penuntut ilmu. Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dengan ilmu itulah seorang Muslim dapat mengetahui kebenaran, terarah pada amal-amal kebajikan, serta mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Begitulah Al-Bugha menjelaskan hadits di atas.

Dasar Kemuliaan Para Pemuda Shahabat

Kita akan membahas contoh-contoh nyata di masa para pemuda shahabat Rasulullah tentang kesungguhan mereka terhadap ilmu. Sebelum itu, kita tengok terlebih dahulu pondasi yang menjadikan mereka kokoh meski mereka masih muda. Adakah yang belum yakin akan keimanan para pemuda shahabat ini, sehingga muncul pernyataan, “Mereka masih sangat muda, mereka mudah tertawan pengaruh luar, pikiran mereka mudah dipengaruhi oleh kilatan-kilatan yang menipu?

Untuk menjawab pernyataan di atas, biarkan pakarnya pemuda yang akan bicara; Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy. Beliau memberikan penjelasan, jika pernyataan di atas benar, maka hal tersebut tidak bisa diterapkan untuk generasi muda shahabat yang penuh berkah. Mereka memeluk Islam ketika sang pembawa risalah tengah menapak jalan terjal. Rasulullah bersama orang-orang yang beriman tengah berada pada fase kesulitan. Meski begitu, para pemuda itu tabah menanggung segala apa yang menimpa mereka. Dan, buku-buku sirah tidak menceritakan kisah kemurtadan mereka yang masuk Islam di periode dakwah Makkah, kecuali beberapa individu yang sangat jarang sekali. Setiap mereka yang masuk Islam sudah paham benar bahwa dia akan membayar mahal untuk ketetapan yang telah diambilnya. Mereka siap dengan siksaan yang akan menimpa mereka.

Jundub bin Abdullah mengabarkan kepada kita, “Kami pernah bersama Rasulullah ketika kami masih muda mendekati usia baligh. Kami belajar kepada beliau tentang keimanan sebelum kami belajar al-Quran. Selanjutnya, kami belajar Al-Quran dan dengannya keimanan kami semakin bertambah.” Maka, pondasi itu bernama Iman.

Kita Saksikan Mereka Bersungguh-Sungguh Terhadap Ilmu

Sekali lagi, mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Rabbnya, mereka pula pemuda yang beriman kepada Rasul-Nya. Maka apa-apa yang datangnya dari Allah dan Rasul-Nya pasti akan mereka ambil, pasti akan mereka gigit dengan gigi geraham. Termasuk perkara ilmu. Generasi muda shahabat begitu memahami urgensi dan keutamaan ilmu, bahkan kewajibannya menguasainya. Maka lembaran-lembaran sejarah telah mencatat nama-nama dan perjalanan mereka dalam menuntut ilmu.

Kita dengarkan kesaksian dari Abu Hurairah tentang Abdullah bin Amru. Dia berkata, “Tidak seorang pun shahabat Nabi yang lebih banyak menghafal hadits kecuali aku, selain Abdullah bin Amru. Dia menuliskan hadits, sedangkan aku tidak menuliskannya.”

Ad-Duwaisy menjelaskan para pemuda shahabat sangat bersungguh-sungguh untuk bersegera dalam belajar dan mendengarkan ilmu. Mereka juga senantiasa menghafalkan ilmu, menuliskannya, menanyakannya,  mendalami maknanya, bahkan mereka siap menanggung kesulitan dalam mendapatkan ilmu.  

Ketika generasi muda shahabat memiliki sedemikian besar kesungguhan dan keseriusan terhadap ilmu, maka Rasulullah pun menaruh perhatian besar terhadap pengajaran mereka. Rasulullah pernah memberikan kesaksian tentang mereka, “... Yang paling mengetahui halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal. Yang paling mengetahui tentang waris adalah Zaid bin Tsabit ...” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.

Hal yang lebih penting lagi, ilmu bagi mereka bukan hanya sebatas hafalan saja tetapi sampai memunculkan tindakan, sebagaimana Ibnu Mas’ud mengatakan, “Ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat, tetapi dengan rasa takut kepada Allah.”
               
Tentu saja kisah-kisah mereka tidak cukup dimuat dalam tulisan singkat ini. Silahkan mengecek  kitab Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga karya Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy halaman 49-72.

Mereka Mengutamakan Adab Sebelum Ilmu

Ad-Duwaisy mengatakan, terkadang penuntut ilmu dikuasai oleh keseriusan menuntut ilmu sehingga mereka bersikap kurang sopan kepada orang yang telah mengajarinya. Hal ini juga menjadi perhatian Syeikh Az-Zarnuji dalam kitab Terjemah Ta’lim Muta’alim. Beliau menyebutkan dalam mukadimahnya tentang penuntut ilmu (di masanya), sebenarnya para penuntut ilmu telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, tapi banyak dari mereka yang tidak memperoleh manfaat dari ilmunya, yakni berupa pengamalan ilmu tersebut dan menyebarkannya. Hal itu terjadi karena cara mereka menuntut ilmu salah, dan syarat-syaratnya mereka tinggalkan.

Namun, para pemuda shahabat tidak demikian. Kita dapati mereka bersungguh-sungguh mencermati adab-adab dalam menunutut ilmu. Kita dengarkan kesaksian dari Al-Barra bin Azib, “Sekiranya akan datang satu tahun lagi untukku, maka aku akan bertanya sesuatu kepada Rasulullah. Aku merasa takut kepada beliau. Kami pernah berangan-angan bahwa kami adalah kaum badui (yang berani berkata apa adanya)”.

Begitu pula Ibnu Abbas, ketika hendak belajar kepada salah seorang shahabat. Dia tidak mengetuk pintu rumahnya karena khawatir mengganggu istirahat siangnya. Maka Ibnu Abbas menunggu di depan pintu dengan menggelar sorbannya hingga pemilik rumah membukakan pintu. Bahkan ketika dia ditanya oleh pemilik rumah, “Wahai kemenakan Rasulullah, mengapa tidak kamu panggil saja aku, biar aku menemuimu?” Ibnu Abbas menjawab, “Aku lebih berhak untuk datang menemuimu dan bertanya kepadamu.” Kelak, orang-orang mengambil manfaat dari Ibnu Abbas.

Sungguh tak pantas seorang penuntut ilmu menyepelekan perkara adab. Sebagaimana Abdullah bin Al-Mubarak pernah mengatakan, “Mempunyai adab meskipun sedikit adalah lebih kami butuhkan dari pada memiliki banyak ilmu pengetahuan.”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar