Senin, 14 Oktober 2019

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN: THE QUR’AN KEEPERS


Oleh: TIM JAN

Al-Qur’an Bicara Tentang Al-Quran

Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (QS. Al-Isra’: 9)

Inilah Al-Quran. Inilah pelampung keselamatan bagi orang yang menjadikannya sebagai pedoman. Inilah pembimbing bagi kaum Muslimin, bagi mereka yang hendak meniti jalan yang lurus. Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Perhatikanlah, sesungguhnya akan terjadi fitnah!” Ali bertanya, “Apa jalan keluar dari fitnah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, Kitabullah ...”

Tentu ini hanya satu dari sekian ayat yang menjelaskan tentang Al-Quran itu sendiri. Silahkan buka Al-Qur’an kalian, dan cermati ayat-ayatnya.

Al-Qur’an dan Tanggung Jawab Besar

Ada hal penting yang harus kaum Muslimin ketahui tentang Al-Qur’an. Hal penting itu telah Allah sampaikan dalam Qur’an surat Al-Isra’. Sebagaimana yang disampaikan oleh Amru Khalid dalam Kitabnya Khowathir Qur’aniyah ketika menjelaskan tujuan diturunkannya surat Al-Isra’. Beliau menjelaskan bahwa peristiwa Isra’ Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Masjidil Aqsha terdapat sebuah pertemuan agung di dalamnya. Saat itu Masjidil Aqsha telah dipenuhi para nabi  dan rasul sejak zaman nabi Adam ‘alaihissalam hingga nabi Isa ‘alaihissalam. Mereka menunggu kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengimami shalat. Shalat yang beliau pimpin ini menjadi tanda perpindahan risalah kepada umat ini. Maka umat Muhammad saat ini memiliki tanggung jawab atas Kitabullah atau risalah yang Allah turunkan. Setiap nabi diperintahkan menjaga kitab Allah. Namun, setelah para nabi meninggal, kaum mereka menelantarkannya. Bahkan, umat terakhir (sebelum Muhammad) yang menerima amanah Kitab adalah Bani Israil. Tetapi mereka melakukan kerusakan di muka bumi dan tidak menjaga Kitab mereka dengan baik.

Masih penjelasan Amru Khalid, dalam surat ini, Allah banyak menyebutkan tentang Al-Qur’an dan Al-Kitab, yang memberikan kesan bahwa surat ini (Al-Isra’) adalah pemberitahuan tentang pentingnya Al-Qur’an. Lantas apa hubungan antara peristiwa Isra’ dan Al-Qur’an itu? Adapun peristiwa Isra adalah cermin perpindahan Kitab kepada umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seolah peristiwa itu memberi kesan kepada kita, “Wahai umat Muhammad, kalian bertanggung jawab  terhadap kitab Al-Qur’an ini. Oleh karena itu, sadarilah nilainya dan jangan sekali-kali menelantarkannya sebagaimana kelakuan umat-umat sebelum kalian. Jika kalian menelantarkannya, Allah akan mengganti kalian sebagaimana Dia telah mengganti mereka.”

Lalu, siapakah orang-orang yang mampu mengemban tanggung jawab risalah sepeninggal Rasulullah? Siapakah orang-orang yang siap mengemban tugas berat yang ada dalam Al-Qur’an? Siapakah  para penjaga Al-Qur’an itu, yang benar-benar menjaganya, tidak hanya sebatas membaca dan menghafal, bahkan mereka mampu mengamalkan hukum-hukumnya hingga mengajarkannya?
Al-Quran dan Para Penjaganya yang Mulia

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari manusia?” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka?” Rasulullah menjawab, “Mereka adalah Ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang Dia istimewakan.”


Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa Ahlul Qur’an adalah orang yang memiliki ilmu tentang Al-Qur’an dan mengamalkannya. Muhammad Syauman Ar-Ramli juga menjelaskan bahwa ahlul Qur’an adalah orang yang mengilmuinya, membacanya, mengamalkan hukum-hukumnya, meskipun mereka belum hafal. Beliau juga menambahkan sampai mengajarkannya. Berarti, semua umat Muhammad berkesempatan menjadi ahlul Qur’an, mereka berkesempatan untuk bertanggung jawab menjaga Al-Qur’an. Pertanyaan berikutnya,  siapa yang terbaik di antara mereka? Merekalah para shahabat. Dr. Raghib As-Sirjani menjelaskan tentang mereka ini dengan mengutip hadits yang penting. Mereka para shahabat adalah orang-orang yang digambarkan Rasulullah dalam sebuah riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud, Nabi bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup di masaku, lalu orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang yang setelah mereka.”

 Para Penjaga Al-Quran Itu Adalah Pemuda

Muhammad Abdullah ad-Duwaisy menjelaskan, banyak orang yang masuk Islam di awal kehadirannya adalah kaum muda di bawah usia dua puluh tahun atau lebih sedikit.

Jika demikian, sebenarnya keimanan telah menghunjam kuat dalam qalbu mereka. Sehingga kegelapan tersingkap dan berubah menjadi cahaya, dan mereka para pemuda shahabat itu membenarkan risalah yang Rasulullah bawa. Para pemuda shahabat ini paham benar tentang Al-Qur’an sebagai sebuah pedoman; yang pembahasannya sudah dipaparkan sebelumnya. Karenanya, hal pertama yang menjadi perhatian generasi muda shahabat adalah Al-Qur’an. Kita akan berkenalan dengan para pemuda yang luar biasa ini.

Rasulullah bersabda, “Pelajarilah bacaan Al-Qur’an dari empat orang; Abdullah bin Mas’ud, Salim Maula Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab, dan Mu’adz bin Jabal.” Ad-Duwaisy menjelaskan bahwa dari empat itu, tiga di antaranya adalah pemuda, yaitu; Mu’adz, Ibnu Mas’ud, dan Salim.

Anas radhiyallahu ‘anhu juga memberi kesaksian, bahwa ada pemuda lain bersama Mu’adz, yaitu Zaid bin Tsabit, di mana dia telah menghimpunnya (menghafal seluruhnya). Anas berkata, “Al-Qur’an telah dihimpun pada masa Rasulullah oleh empat orang, semuanya dari kalangan Anshar, yaitu; Ubay, Mu’adz bin Jabal, Abu Zaid, dan Zaid bin Tsabit.”

Selanjutnya, Amru bin Salamah, seorang shahabat generasi akhir, dia sangat serius mempelajari Al-Qur’an. Dia selalu menyambut kafilah yang datang, belajar dan bertanya kepada mereka tentang Al-Qur’an. Sehingga, kemampuannya mengungguli seluruh anggota kaumnya. Bahkan kaumnya, merekomendasikan dirinya menjadi imam shalat.

Seorang anak yang belum lama melewati usia sepuluh tahun, Al-Bara’ bin Azib, berkata, “Rasulullah tidak datang kepada kami kecuali setelah aku menghafal surat-surat ­al-Mufashshal (Surat Qaf - surat An-Nas).

Begitu pula Abdullah bin Abbas, dia berkata, “Tanyakanlah tentang tafsir kepadaku. Sebab, aku telah menghafal Al-Qur’an semenjak aku kecil.”

Begitu pula Salim Maula Hudzaifah. Aisyah pernah terlambat menemui Rasulullah. Saat beliau tanyakan alasannya, Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, di masjid ada seorang laki-laki di mana  aku belum pernah melihat seorang pun yang bacaan Al-Qur’annya lebih baik darinya.” Lalu Rasulullah pergi ke masjid, dan ternyata orang tersebut adalah Salim Maula Hudzifah. Rasulullah pun bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan orang seperti dirimu di dalam umatku.”

Catatan Penting Tentang Mereka

Apakah mereka hanya memiliki hafalan banyak tanpa paham maknanya? Apakah mereka mengamalkannya? Apakah Quran sampai menata perilaku dan kehidupannya? Atau, apakah mereka hanya menjaga makhraj semata? Tentu tidak. Kita serahkan pada ahlinya Al-Qur’an di masa itu untuk memberikan penjelasan lebih detail.


Abdullah bin Mas’ud menceritakan kepada kita bagaimana penjagaan mereka terhadap Al-Qur’an, “Apabila salah seorang di antara kami mempelajari sepuluh ayat, maka dia tidak beralih ke ayat berikutnya, hingga dia mengetahui makna-maknanya sekaligus mengamalkannya.”

Selanjutnya kita dengar sabda Rasulullah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, beliau bersabda, Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran lalu mengajarkannya.” Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari.

Menghafal menurut Muhammad Abdullah ad-Duwaisy adalah sarana menuju tahap berikutnya, yakni konsisteni untuk membaca, merenungkan, dan mempelajari makna-maknanya. Selanjutnya adalah membawa diri kepada petunjuk dan arahannya.

Referensi:
1.    Amru Khalid, Khowathir Qur’aniyah, 2004, Jakarta Timur; Al-I’tishom.
2.    Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy, Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga, 2019, Solo; Zam-Zam.
3.    Raghib As-Sirjani, Menjadi Pemuda Peka Zaman, Solo; PT Aqwam Media Profetika.
4.    Muhammad Syauman Ar-Ramli, dkk, Nikmatnya Menangis Bersama Al-Quran, 2015, Jakarta Timur; Istanbul.

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar