Sabtu, 19 Oktober 2019

MATERI LESEHAN JUMAT JAN: THE PRAYER PRACTICERS


Allah Perintahkan Ibadah Melalui Al-Quran 

 Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah: 21).

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Inilah perintah dari Allah ta’ala untuk beribadah kepada-Nya. As-Sa’di menjelaskan, bentuk ibadah itu berupa mentaati perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, dan mempercayai kabar-kabar-Nya.    

Ibadah inilah yang menjadi tujuan Allah menciptakan jin dan manusia. Bahkan Allah mengutus semua rasul untuk menyeru kepada tujuan tersebut, yaitu tujuan menyembah Allah yang mencakup berilmu tentang Allah, mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, menghadap kepada-Nya dan berpaling dari selain-Nya. Kesempurnaan ibadah tergantung pada ilmu dan ma’rifatullah. Demikian penjelasan As-Sa’di dalam menafsirkan surat Adz-Dzariyat ayat 56.

Inilah Makna Ibadah yang Benar

Ibadah secara bahasa berarti taat, tunduk, hina, dan pengabdian. Ibnu Taymiyah mengartikan ibadah sebagai puncak ketaatan dan ketundukan yang di dalamnya terdapat unsur cinta. Ketaatan tanpa unsur cinta maka tidak dapat diartikan sebagai ibadah dalam arti sebenarnya. Dalam penjelasannya  Syakir Jamaluddin Ibadah terbagi menjadi dua. Pertama, ibadah khusus yang ketentuannya sudah ditetapkan oleh nash, seperti thaharah, shalat, zakat, dan semacamnya. Kedua, ibadah umum yaitu semua perbuatan baik yang dilakukan dengan niat karena Allah semata. Misalnya menuntut ilmu, mendidik, berdakwah, berjihad, dan semacamnya.

Merujuk pernyataan di atas, banyak umat Islam yang memiliki pemahaman yang keliru, mereka menganggap bahwa ibadah itu hanya perkara shalat, zakat, haji, dan dzikir saja. Padahal,  yang demikian itu adalah bagian dari ibadah. Dan ibadah sendiri sangat luas cakupannya. Bukankah Allah ta’ala telah kabarkan kepada manusia, “Sesiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan sesiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Az-Zalzalah: 7-8). Jika perkara secekil itu tidak termasuk ibadah, kenapa Allah memberikan balasannya?

Maka, makna ibadah yang sebenarnya, sebagaimana yang telah Allah sendiri tetapkan, “Katakanlah, ‘sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162). Demikian Dr. Raghib As-Sirjani menegaskan.

Maksudnya segala sesuatu yang kita lalui dalam hidup ini hanya diperuntukkan untuk Allah semata. Hidupnya untuk Allah, matinya pun untuk Allah, shalat dan puasanya untuk Allah, dan bekerjanya pun untuk Allah. Bahkan bergaulnya seseorang baik dalam lingkup sempit maupun lingkup luas seperti antar negara, semuanya untuk Allah. Semua yang mereka lakukan ini, kelak akan dimintai pertanggungjawaban, “Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al-Muddatstsir: 38)

Keimanan Pemuda Shahabat dan Ibadah

Kita saksikan sendiri, keimanan para shahabat begitu kokoh, tidak mudah terpengaruh oleh virus-virus dari luar, mereka memegang teguh syariat Islam meskipun resikonya sangat berupa siksaan. Para pemuda shahabat bersaksi bahwa Allah adalah Illah yang hak untuk diibadahi. Mereka juga meyakini kebenaran Rasulullah dan apa yang beliau bawa. Keimanan yang kokoh itu terbukti dengan aktivitas ibadah yang mereka lakukan. Meskipun mereka masih muda, tapi kualitas ibadahnya luar biasa. Sebagaimana pernyataan Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid bahwa ibadah merupakan pengikat bagi pembentukan akidah Islamiyah. Maka supaya keimanan dalam qalbu itu semakin subur, mereka senantiasa menyiraminya dengan air ibadah dengan segala bentuk dan ragamnya. Dengan demikian, keimanan akan semakin tumbuh dan kokoh meskipun badai kehidupan menerjang.
               
Lihatlah Ibadahnya Pemuda Para Shahabat

Inilah sebaik-baik generasi. Mereka adalah para shahabat. Di antara mereka banyak para pemuda. Dalam hal ibadah, khususnya ibadah khusus, jangan bertanya lagi, tak mampu kita ini menandingi mereka. Ibnu Umar radhiyallahu anhum, seorang shahabat bersaksi atas shahabat yang lain, dia mengatakan, “Demi Allah, aku belum pernah melihat orang yang lebih banyak berpuasa, mendirikan shalat,  dan menyambung silaturahim, selain Abdullah bin Zubair.”

Begitu pula Nafi’ ditanya tentang aktifitas Ibnu Umar saat berada dalam rumah, dia mengatakan, “Kami tidak akan sanggup melakukannya. Dia berwudhu setiap kali shalat dan membaca mushaf di sela-sela kedua waktu shalat.”

Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid memberikan pernyataan penting tentang ibadahnya para pemuda shahabat, bahwa anak-anak para shahabat tidak cukup hanya mendirikan shalat lima waktu. Mereka juga masih menambah dengan shalat malam, sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu.

Kita dengarkan langsung penuturan dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan Imam Bukhari, “Aku menginap di rumah bibiku, Maimunah binti al-Harits, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau malam itu berada di rumahnya. Nabi shalat Isya. Kemudian beliau pulang dan mengerjakan shalat empat rakaat. Setelah itu beliau tidur.  Kemudian beliau bangun dan bersabda, “Anak ini sudah tidur?” Kemudian beliau berdiri shalat. Aku pun berdiri di samping kiri beliau. Lalu beliau memindahkanku ke samping kanan beliau. Beliau shalat lima rakaat. Kemudian meneruskan dengan shalat dua rakaat. Kemudian beliau tidur sampai aku mendengar dengkur beliau. Kemudian beliau pergi untuk shalat subuh.”

Apakah Ibnu Abbas hanya ikut-ikutan dalam shalat? Ternyata tidak, sejak awal hendak menginap dia memiliki tujuan untuk memperhatikan ibadahnya Rasulullah. Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah disebutkan, “Aku (Ibnu Abbas) menginap di rumah bibiku, Maimunah, agar aku dapat memerhatikan begaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat...”

Begitu pula keikutsertaan para pemuda dalam shalat malamnya Rasulullah di bulan Ramadhan. Ada An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu radhiyallahu ‘anhu yang tengah menceritakan kisah ibadahnya bersama Rasulullah.

“Kami pernah melaksanakan shalat malam bersama Rasulullah  pada malam keduapuluh tiga bulan Ramadhan hingga sepertiga malam. Kemudian, pada malam keduapuluh lima kami melakukan shalat malam hingga separuh malam. Lalu beliau menunaikan shalat malam bersama kami pada malam keduapuluh tujuh hingga kami mengira tidak menjumpai lagi waktu sahur. Dan biasanya kami berseru, “Waktu sahur telah tiba.”

Keikursertaan Nu’man dalam shalat malam tersebut disertai penjelasan sifat shalat yang dilakukan. Padahal saat itu Nu’man masih kanak-kanak. Kata Ad-Duwaisy hal ini menjadi pendorong dan penyemangat bagi pemuda muslim untuk meneladani mereka serta untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Rabbnya.

Referensi
1.       Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Tafsir Al-Quran Jilid 1, 2015, Jakarta; Darul Haq.
2.       Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Tafsir Al-Quran Jilid 7, 2015, Jakarta; Darul Haq.
3.       Syakir Jamaluddin, Kuliah Fiqh Ibadah, 2015, Yogyakarta; LPPI UMY.
4.       Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy, Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga, 2019, Solo; Zam-Zam.
5.       Raghib As-Sirjani, Menjadi Pemuda Peka Zaman, Solo; PT Aqwam Media Profetika.
6.       Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Prophetic Parenting; Cara Nabi Mendidik Anak, 2009, Yogyakarta; Pro-U Media.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar