Sabtu, 26 Oktober 2019

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN: THE WORLD AVOIDERS #3


Perlu Tali Kekang Agar Tidak Terperdaya Dunia

Setidaknya ada dua hal yang menjadikan seseorang mampu menahan syahwat dan hawa nafsunya dalam perkara dunia. Pertama, takut kepada Allah. Kedua, menganggap besar dosa. Kita cermati bagaimana takutnya para shahabat serta bagaimana pandangan mereka terhadap dosa.

Kita mulai dari yang pertama, namanya Abdullah bin Handzalah. Suatu ketika dia mendengar seorang membaca firman Allah, “Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka)” (QS. Al-A’raf: 41).

Sontak dia menangis, hingga orang-orang mengira jiwanya akan keluar. Lalu, dia bangkit berdiri. Orang-orang berseru, “Wahai Abu Abdurrahman, duduklah kamu.” Abdullah berkakata, “Ketika neraka jahannam disebutkan, pantang untuk duduk. Aku tidak tahu, bisa saja aku termasuk salah seorang dari penduduk neraka itu.” Meski demikian, para shahabat tidak hanya mengedepankan rasa takut, mereka menghimpun antara rasa takut (khauf) dan harapan (raja’).

Berikutnya pandangan para pemuda shahabat terhadap dosa. Anas bin Malik berkata, “Kalian melakukan amalan-amalan yang menurut kalian lebih lembut dari sehelai rambut, tetapi bagi kami pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam amalan itu termasuk hal-hal yang membinasakan.” Pernyataan serupa disampaikan oleh pemuda shahabat lain, Abu Sa’id Al-Khudri. Anas dan Abu Sa’id menyampaikan perbandingan itu kepada para tabi’in. Padahal, tabi’in adalah satu di antara generasi terbaik. Mereka satu masa setelah para shahabat. Kira-kira, dosa seperti apa yang para tabi’in anggap seperti sehelai rambut? Lantas apa komentar Anas dan Abu Sa’id jika melihat generasi sekarang ini?

Ad-Duwaiys menegaskan, menganggap besar dosa ini akan melahirkan tindakan memohon ampun dan bertaubat kepada Allah agar terhindar dari bencana dosa tersebut. Selanjutnya, akan melahirkan energi dahsyat yang membantu seseorang mengalahkan syahwat  dan hawa nafsunya terhadap dunia.


Referensi:
1.       Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Tafsir Al-Quran, 2015, Jakarta: Bandung.
2.       Musthofa Dib Al-Bugha, dkk, Syarah Riyadush Shalihin Jilid 1, 2011, Yogyakarta; Darul Uswah.
3.       Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy, Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga, 2019, Solo; Zam-Zam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar