Minggu, 27 Oktober 2019

Resume: The Ma`rifah Seekers #2


Lain halnya seorang Professor yang ketika membaca surat Al-Isra` ayat pertama. Sebuah kata “khaula” menjadi inspirasi yang sangat menarik sehingga sampai saat ini beliau meneliti daerah mana yang termasuk “khaula” atau sekitar Masjidil Al-Aqsha yang mendapatkan berkahnya? Maka, kabar yang sangat indah dari hasil “Ma`rifah” beliau bahwa siapapun dan dimanapun yang menghubungkan dirinya dan jiwanya kepada Masjid Al-Aqsha akan mendapatkan berkah dari Masjid Al-Aqsha. Sudah kenal dengan Professor asli orang Palestina ini? Prof Abdul Fattah el-Awaisi.

Begitu pula dengan Kyai Haji Ahmad Dahlan ketika ditanya oleh para jamaahnya tentang alasan mengapa yang diajarkan dari pertemuan-pertemuan sebelumnya sampai saat itu adalah Surat Qur`an Al-Ma`un. Alasan beliau adalah tidak ada adanya perubahan amal pada jamaah setelah mengaji Al-Ma`un. Mulai dari, “Sudahkah mengenal anak yatim di sekitar kita dan tidak menghardiknya?”, “Sudahkah memberi makan orang miskin?” “Sudahkah tidak membentak orang yang meminta-minta?”

Sungguh, Ma`rifah adalah bukan sekedar tahu, tapi sadar sehingga menjadikan adanya perubahan amal. Termasuk pada Ma`rifah Masjid Al-Aqsha. Di manakah Masjid Al-Aqsha? Berapa luas Masjid Al-Aqsha? Kalau kita belum bisa menjawab atau menjawab tetapi jawaban kurang tepat, berarti pikiran kita terjajah. Bencana besar yang sesungguhnya bukan pada pembantaian yang terjadi, tetapi bencana besar itu adalah hilangnya pemahaman/ Ma`rifah terhadap Al-Aqsha dan Baitul Maqdis.

Semakin seseorang memiliki Ma`rifah yang benar, hati makin lapang. Sebagaimana Imam Syafi`i ketika mendapati satu ayat dari Surat Maryam: 64. Menjadi alat panah yang menembus jantung sehingga menjadi sumber utama ketenangan. “Dan tidaklah Rabbmu lupa.” (QS. Maryam: 64).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar