Jumat, 25 Oktober 2019

Teaser The World Avoiders


Oleh: A. Yusuf Wicaksono

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit. Lalu karena air itu, tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, tiba-tiba datanglah azab Kami kepadanya di waktu malam atau siang. Lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanaman-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir.” (QS. Yunus: 24)

Ini adalah satu di antara perumpamaan terbaik, pas dengan kehidupan dunia, karena kenikmatan, syahwat, kedudukan dan lain-lain menjadi indah –dalam waktu singkat saja-, jika dia telah lengkap dan sempurna maka dia terkikis dan terlepas dari pemiliknya atau pemiliknya terlepas darinya. Maka kedua tangannya hampa, hatinya penuh dengan kecemasan, kesedihan dan penyesalan karenanya. Demikian As-Sa’di menjelaskan dalam Tafsirnya.

Untuk apa Allah membuat permisalan-permisalan ini? As-Sa'di menjelaskan ayat, “…perumpamaan kehidupan dunia…,” Al-Kahfi ayat 45, Allah berikan perumpamaan kehidupan dunia ini agar manusia mengimajinasikan dengan benar dan mengetahui (seluk-beluknya) zahir dan batin, membandingkannya dengan kampung akhirat, dan mengutamakan manakah yang seharusnya diutamakan.

Lantas mana yang harus diutamakan manusia, dunia atau akhirat? “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64).

Inilah nasihat indah dari Rasulullah dalam sebuah hadits panjang untuk menyikapi dunia, yang disampaikan Abdullah bin Mas’ud, “… Aku di dunia ini tidak lain hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian dia pergi dan meninggalkan pohon itu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dengan sanad hasan shahih.

Demikianlah dunia, sementara adanya. Namun akhirat, puncaknya kenikmatan dan harus kita utamakan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar