Sabtu, 30 November 2019

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN THE TRIAL FIGHTERS


Oleh: TIM JAN
  
Al-Qur’an Bicara Tentang Para Syuhada
           
Inilah para syuhada. Merekalah orang-orang beriman yang gugur di medan pertempuran. Sungguh, mereka tidaklah mati sebagaimana orang-orang mengira. Mereka hidup di sisi Allah ta’ala. Bahkan mereka mendapatkan kenikmatan yang begitu istimewa. Tidakkah kalian dengar firman Allah ta’ala tentang mereka?

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 189-171).

Tingginya Kedudukan Para Syuhada
           
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Ruh seorang mukmin menjadi burung  yang bergelantungan pada pohon surga sebelum Allah mengembalikan kepada jasadya ketika membangkitkan kembali.”
           
Inilah berita gembira bagi setiap mukmin, bahwa ruh mereka berada di surga. Ruh itu juga berpesiar di surga, memakan buah-buahan surga, melihat pemandangan dan keriangan yang ada di sana, serta menyaksikan karunia yang disediakan Allah di surga. Demikian penjelasan Ibnu Katsir terhadap hadits di atas.
           
Dalam riwayat Imam Ahmad, dijelaskan bahwa ruh para syuhada Allah tempatkan dalam tembolok burung hijau. Burung-burung itu mendatangi sungai surga, memakan buah-buahan surga, dan bersarang pada lampu-lampu gantung yang terbuat dari emas di bawah Arasy.
           
Bahkan mereka mengajukan permohonan kepada Allah ta’ala, “Ya Rabbi, kami ingin kiranya Engkau mengembalikan ruh kami ke jasadnya sehingga kami dapat berperang di jalanmu sekali lagi.” Seakan, mengulangi berjuang di jalan Allah, lalu terbunuh untuk yang kedua kali dalam peperangan, itu menjadi kegembiraan mereka. Karena pahala mati syahid memang besar adanya.
           
Selain itu, Syeikh al-Jazairi menjelaskan bahwa orang-orang yang mati syahid akan merasakan kegembiraan yang besar dengan kenikmatan. Apa kenikmatan itu? Beliau mengutip riwayat Imam Tirmidzi, bahwa kenikmatan itu setidaknya ada enam, yaitu dia diampuni dosa-dosanya, diperlihatkan tempatnya di surga, dia diselamatkan dari azab kubur, dia akan aman dari keterkejutan terbesar ketika peniupan sengkakala,  disemaikannya Mahkota Kharisma; yang sebutir permatanya saja jauh lebih baik dari dunia seisinya, dia mendapatkan istri 72 bidadari, dan diizinkan memberikan 70 syafaat kepada keluarga dan kerabatnya.

Para Pemuda Shahabat Siap Menanggung Ujian
           
Jihad menjadi bukti keimanan para pemuda shahabat. Bukan untuk memamerkan kehebatan, namun untuk mengharap wajah Allah ta’ala. Kaki mereka melangkah di dunia, namun angan dan cita mereka menembus negeri akhirat hingga surga tampak di depan mata. Maka, tidak aneh jika mereka bertekad menjadi syuhada. Mereka berperang di jalan Allah, dan gugur karenanya.
           
Ini hanyalah satu dari sekian ujian berat yang harus dihadapai oleh para pemuda shahabat. Ada di antara mereka yang harus terasing karena menyelamatkan keimanan. Keimanan adalah sesuatu yang begitu mahal. Lapar dan fakir seakan menjadi ancaman yang lain, apalagi mereka yang tinggal di shuffah. Banyak dari mereka adalah generasi muda shahabat.
           
Lantas apakah mereka mampu bersabar atasnya? Apakah mereka mampu menghadapi beratnya ujian itu? Jika mereka tak mampu, layakkah mereka disebut generasi terbaik?
           
Inilah kisah-kisah tentang mereka. Berawal dari kabar yang Rasulullah sampaikan, ada pemuda yang kelak akan menemui kesyahidan. Dialah Thalhah bin Ubaidillah. Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesiapa yang ingin melihat seorang yang syahid berjalan di muka bumi, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah.’” Hadits ini diriwatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah.
           
Kita dengar kisah tentang kesyahidan Haritsah bin Ar-Rabi’. “Bahwasanya Haritsah pada Perang Badar menjadi anggota pasukan pengintai.” Tutur Anas radhiyallahu ‘anhu. Saat itu dia masih kecil. Tiba-tiba sebatang anak panah menyambar dan tepat mengenai tenggorokannya. Dia meninggal saat itu juga. Ibunya yaitu Rubayya’ menghampiri Rasulullah seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau telah tahu kedudukan Haritsah di sisiku. Jika dia berada di surga, maka aku merelakannya. Tetapi, kalau tidak, Allah akan melihat apa yang aku lakukan.’ Beliau menjawab, ‘Wahai ibunda Haritsah, surga itu tidak hanya satu. Surga itu banyak. Dia berada di Firdaus, surga tertinggi.” 
           
Ada kisah menarik tentang saudaranya Sa’ad bin Abi Waqqash, yaitu Umair bin Abi Waqqash. Meski masih kecil, dia telah memenuhi hatinya dengan ruh jihad. Sama-sama di perang Badar layaknya Haritsah, Umair mengetahui bahwa dia akan menemui syahid di jalan Allah. Maka,  dia pun bersikukuh untuk ikut serta dalam pertempuran.
           
Sa’ad menceritakan kepada kita kisah Umair, dia berkata, “Aku melihat saudara laki-lakiku, Umair bin Abi Waqqash menyelinap di belakang sebelum Rasulullah memeriksa kami menjelang pertempuran Badar. Aku bertanya, ‘Ada apa denganmu wahai saudaraku?’ Dia menjawab, ‘Aku khawatir jika Rasulullah melihatku dan menganggapku masih kecil, lalu menolak kehadiranku. Padahal, aku sangat ingin ikut berperang. Semoga Allah mengaruniakan kesyahidan kepadaku.’ Lalu, dia dihadapkan kepada Rasulullah. Beliau menganggapnya masih kecil, sehingga mengembalikannya pulang. Umair menangis, hingga akhirnya beliau mengizinkan. Akulah yang mengikat gagang pedangnya karena begitu kecilnya dia. Akhirnya dia terbunuh di usia 16 tahun.’”


The Battle Warriors


Jumat, 29 November 2019

Kekuatan Pemuda

Oleh: M. Fatan 


Bisa apa sih pemuda?

Bisa mengguncang kekuatan kebathilan, sebagaimana pemuda Ibrahim telah tunjukkan

Pemuda Yusuf juga teladankan bagaimana menjaga kehormatan, berdakwah di tengah himpitan kesulitan, hingga berjaya ketika diamanahkan di pundaknya kekuasaan

Kita pun mafhum bahwa pemuda Yusya' yang telah Allah taqdirkan menjadi satu di antara the Fatih of Baitul Maqdis

Para pemuda yang beriman, yang tidak menyimpang dari kebenaran, menakjubkan Sang Penguasa Semesta alam, sebagaimana yang Rasulullah sabdakan :

يَعْجَبُ رَبُّكَ مِنْ شَابٍّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ

Rabbmu kagum dengan pemuda yang tidak memiliki shobwah. [HR. Ahmad]

Shobwah adalah kecondongan untuk menyimpang dari kebenaran

Senin, 25 November 2019

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN THE BATTLE WARRIORS

Oleh: TIM JAN

 Izin Perang dalam Al-Qur’an

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena Sesungguhnya mereka telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (QS. Al-Hajj: 39)
           
Inilah izin yang Allah berikan kepada kaum Muslimin untuk perang. Di awal Islam, kaum Muslimin dilarang untuk memerangi kaum kafir dan diperintahkan untuk bersabar atas gangguan dan tekanan mereka. Tekanan itu mereka (orang-orang kafir) lakukan semenjak Muslimin di Makkah. Ketika Muslimin telah berhijrah ke Madinah penindasan itu tetap dilakukan. Bahkan, kaum kafir Quraiys membuat tipu daya hendak datang ke Madinah dan melakukan penyerangan.
           
Rencana orang-orang Quraisy itu diperkuat dengan pengiriman pasukan kepada Muslimin untuk menyampaikan pernyataan mereka, “Janganlah kalian bangga terlebih dahulu karena bisa meninggalkan kami pergi ke Yastrib. Kami akan mendatangi kalian, lalu merenggut  dan membenamkan tanaman kalian di halaman rumah kalian.” Ancaman ini bisa dicek dalam Kitab Sirah Nabawiyah karya Syeikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri.
           
Kemudian, Allah memberikan izin kepada Rasulullah dan kaum Muslimin untuk memerangi kaum yang melancarkan peperangan kepada mereka. Allah telah memberikan lampu hijau untuk berperang, karena mereka pihak yang terdzalimi, lantaran dihalang-halangi dari menjalankan agama mereka dan disakiti karenanya serta diusir dari kampung-kampung mereka. Demikian Syeikh As-Sa’di menjelaskan dalam Kitab Tafsirnya.

Pemuda Sahabat dan Jihad
           
Kehidupan generasi awal Islam adalah jihad dan pengorbanan di jalan Allah. Kedua hal inilah yang menjadi kesibukan masyarakat Muslim. Sebab membumikan pengaruh agama Islam di tengah masyarakat yang tenggelam dalam kesyirikan dan kesesatan menuntut amunisi berupa jihad, pengorbanan dan darah. Para pemuda shahabat memiliki porsi besar dalam urusan ini, karena kemuliaan jihad telah tertanam kuat dalam diri mereka, bahkan menggetarkan seluruh jiwa raga mereka untuk menyambutnya.
           
Selain para pemuda sahabat, anak-anak pun juga tak mau ketinggalan. Mereka turut ambil bagian, meskipun oleh Rasulullah Shallallahu ‘aialihi wa sallam ditolak. Di antara mereka yang tercatat, di antaranya Al-Bara’ bin Azib dan Rafi’ bin Khadij yang ditolak dalam Perang Badar. Ada juga Arabah bin Aus, Usaid bin Zhuhair bin Rafi’, dan Said bin Yahya yang juga dianggap masih kecil saat Perang Badar. Dalam Perang Uhud, Abu Said Al-Khudri, Zaid bin Arqam, Zaid bin Tsabit juga Rasulullah tolak.
           
Namun, ada masanya mereka diizinkan menjadi bagian dari pasukan perang. Seperti Rafi’ bin Khadij, dia ditolak saat Perang Badar selanjutnya mendapatkan izin saat Perang Uhud. Lain hal dengan Ibnu Umar, dia dianggap kecil dalam Perang Uhud, dan mendapat izin pada Perang Ahzab. Bahkan, ada di antara mereka yang sembunyi di bagian belakang pasukan, dialah Umair bin Abi Waqqash.  Saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau mengeluarkannya dari pasukan. Tapi, Umair memiliki senjata ampuh, yaitu menangis. Hingga akhirnya Rasulullah mengizinkan ikut berperang.
           
Selain mereka ada Salamah bin Al-Akwa’ yang terlibat dalam perang melawan suku Hawazin. Dia disebutkan oleh Rasulullah sebagai sebaik-baik prajurit pejalan kaki. Kisah panjangnya bisa dicek dalam Kitabnya Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy yang berjudul Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga halaman 144.

Para Pemuda Shahabat dan Kebanggaan Jihad
           
Urwab bin Zubair mengisahkan, “Di tubuh Zubair terdapat tiga bekas sabetan pedang; salah satunya ada di pundaknya yang mana aku bisa memasukkan jari-jariku ke bekas luka itu. Dua bekas luka diperoleh pada pertempuran Badar, yang ketiga diperoleh pada pertempuran Yarmuk.” Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
           
Sementara itu di tangan Abdullah bin Abi Aufa ada bekas sabetan pedang di lengannya, Ismail yang menyaksikan itu bertanya, “Apa ini?”, Abdullah menjawab, “Bekas sabetan pedang yang aku dapatkan dalam pertempuran Hunain.” Ismail bertanya lagi, “Kamu ikut dalam pertempuran Hunain?”, Abdullah menjawab, “Iya, juga pertempuran sebelumnya.” Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
           
Saat pertempuran pertama yang diikuti oleh Rafi’ bin Khadij yaitu Uhud, dia terkenan lemparan anak panah. Dia cabut anak panah itu, sedangkan mata panahnya masih tertinggal di daging hingga akhirnya  dia meninggal.  
           
Setelah sebelumnya para pemuda itu memiliki bekas sabetan pedang, kali ini mereka memiliki bukti berupa pedang yang berlumur darah. Abdurrahman bin Auf menceritakan kepada kita tentang mereka. Ketika Abdurrahman bin Auf berada di tengah kecamuknya perang Badar. Dia katakan, seorang anak berdiri di samping kananku dan bertanya kepadaku, “Wahai paman, tunjukkan kepadaku mana Abu Jahal!” Aku balik bertanya kepadanya, “Wahai anakku, ada apa dengan Abu Jahal?” Dia menjawab, “Demi Allah, kalau aku melihatnya, aku tidak akan melepasnya. Dia sering menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Kemudian ada anak lainnya yang berdiri di samping kiriku menanyakan hal yang sama. Singkat cerita, setelah Abu Jalal telah terlihat, mereka saling mendahului  untuk membunuh Abu Jahal. Kedua anak itu bersegera menemui Rasulullah dan memberitahukan kejadian tersebut. Masing-masing mengatakan, “Aku yang membunuhnya, Wahai Rasulullah!” Beliau bersabda kepada mereka berdua, “Perlihatkan kepadaku pedang kalian!” Beliau melihat bekas darah di kedua pedang itu. Beliau bersabda, “Kalian berdua sama-sama telah membunuhnya.”
           
Bekas-bekas sabetan pedang dan lemparan panah itu menjadi bukti bahwa mereka terlibat dalam jihad. Bahkan, bekas darah yang menempel di pedang mereka tak kalah pentingnya untuk menjadi saksi perjuangan para pemuda shahabat. Mereka menghadiahkan jiwa raga mereka untuk kemuliaan Islam. Masa muda mereka, dihabiskan untuk fii sabilillah.

RESUME THE SWIFT INISIATORS #3



Inilah Zaid bin Tsabit, sahabat yang termasuk memiliki inisiatif cepat dalam melakukan kebaikan. “Ono sing apik, neng ngarepe, ayo ndang dilakoni”. Ada sesuatu yang baik, di hadapannya, cepat dilakukan dengan cara terbaik.

Seperti pula yang dilakukan oleh Ibnu Abbas ketika Rasulullah bermalam di rumahnya. Mengetahui Rasulullah di malam hari senantiasa menegakkan shalat, Ibnu Abbas berinisiatif menyiapkan air untuk wudhu beliau. Yang dilakukan Ibnu Abbas “care”. Melakukan sesuatu tanpa diminta. Berbeda dengan “service”, diminta dulu, baru bertindak.

Siapa sesungguhnya “The Swift Inisiators”? Pertama, “The Climbers”. Mereka senantiasa tidak puas dengan prestasi kebaikan yang telah dicapai. Kedua, mereka akan bertanya untuk meningkatkan kinerjanya. Dan ketiga, mereka selalu segera melakukan kebaikan atau menunaikan tugas.

Bagaimana untuk menjadi “The Swift Inisiators?”

Pertama, ketahuilah kebenaran. Ilmuilah kebenaran. Tanpa ilmu, kita tidak akan tahu mana yang baik dan buruk. Kedua, lakukan kebaikan atau kebenaran itu. Ketiga, berdoalah meminta kebaikan hingga akhir hayat. Keempat, mintalah saran dari orang-orang yang ahli. Lakukan musyawarah tentang kebenaran tersebut. Dan terakhir, lakukanlah shalat Istikharah.

Ada sahabat-sahabat muda selain Zaid bin Tsabit dan Ibnu Abbas yang bisa disebut “The Swift Inisiators”. Ada Amr bin Ash sang penakluk beberapa tempat peperangan. Al-Arqam bin Abi Arqam, Abdullah bin Mas`ud, Sa`ad bin Abdullah, Ali bin Abi Thalib, dan lainnya. Apa inisiatif cepat yang mereka lakukan? Bisa dicek di buku-buku kisah sahabat. Bagaimana dengan sahabat wanita Rasulullah? Ada Aisyah binti Abu Bakar, Fatimah binti Rasulullah, Ummu Chabibah, dan yang lainnya.

Mari berinisiatif mencari tentang mereka dan meneladaninya …



RESUME THE SWIFT INISIATORS #2



Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘ahnu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya. (HR. Al-Bukhari).

Bismillah. Mari kita pelajari satu sahabat yang bukan mulia karena hartanya, bukan pula karena pernikahannya atau tahtanya. Tapi mulia karena imannya.

Pemuda ini berbadan kurus, kecil, dan saat itu usianya masih 13 tahun. Adakah kalian berumur 13 tahun? Atau lebih? Tapi, meski umurnya 13 tahun yang tergolong masih kecil, sungguh pikirannya jauh “lebih dari itu”. Saat itu, pasukan kaum Muslimin sedang bersiap untuk Perang Badar.

Ia sangat antusias ingin ikut. Ya, sahabat muda berumur 13 tahun ini ingin menjadi barisan muslimin dalam perang Badar. Namun, Rasulullah menolak Zaid sebagai bagian dari pasukan muslimin.

Mendapat penolakan ini, Zaid pulang dan mengadu kepada ibundanya, Nawwar bin Malik. An-Nawwar memberikan nasihat kepada Zaid, ''Jangan bersedih, engkau bisa membela Islam dengan cara lain. Jika tidak mungkin dengan jihad ke medan perang, cobalah berjihad melalui lisan atau tulisan.''

Kemampuan yang sangat jarang saat itu adalah kemampuan baca tulis. Dan Zaid mengambil peran itu. Bukan syahid di perang Badar. Zaid mempelajari baca tulis sampai menjadi ahli di bidangnya. Setelah itu, Rasulullah memberikan amanah untuk mempelajari bahasa Ibrani (Yahudi) dan Suryani. Zaid pun mampu menguasainya dalam waktu yang tidak lama …

Jadilah Zaid bin Tsabit sebagai penulis wahyu yang mashur. Dialah notulennya Rasulullah. Sang penghimpun Al-Qur`an. Zaid pernah melukiskan kesulitan menjalankan tugas mulia ini, “Demi Allah, seandainya mereka memintaku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, itu lebih mudah bagiku daripada menghimpun Al-Qur`an.”

Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘ahnu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya. (HR. Al-Bukhari).

Bismillah. Mari kita pelajari satu sahabat yang bukan mulia karena hartanya, bukan pula karena pernikahannya atau tahtanya. Tapi mulia karena imannya.

Pemuda ini berbadan kurus, kecil, dan saat itu usianya masih 13 tahun. Adakah kalian berumur 13 tahun? Atau lebih? Tapi, meski umurnya 13 tahun yang tergolong masih kecil, sungguh pikirannya jauh “lebih dari itu”. Saat itu, pasukan kaum Muslimin sedang bersiap untuk Perang Badar.

Ia sangat antusias ingin ikut. Ya, sahabat muda berumur 13 tahun ini ingin menjadi barisan muslimin dalam perang Badar. Namun, Rasulullah menolak Zaid sebagai bagian dari pasukan muslimin.

Mendapat penolakan ini, Zaid pulang dan mengadu kepada ibundanya, Nawwar bin Malik. An-Nawwar memberikan nasihat kepada Zaid, ''Jangan bersedih, engkau bisa membela Islam dengan cara lain. Jika tidak mungkin dengan jihad ke medan perang, cobalah berjihad melalui lisan atau tulisan.''

Kemampuan yang sangat jarang saat itu adalah kemampuan baca tulis. Dan Zaid mengambil peran itu. Bukan syahid di perang Badar. Zaid mempelajari baca tulis sampai menjadi ahli di bidangnya. Setelah itu, Rasulullah memberikan amanah untuk mempelajari bahasa Ibrani (Yahudi) dan Suryani. Zaid pun mampu menguasainya dalam waktu yang tidak lama …

Jadilah Zaid bin Tsabit sebagai penulis wahyu yang mashur. Dialah notulennya Rasulullah. Sang penghimpun Al-Qur`an. Zaid pernah melukiskan kesulitan menjalankan tugas mulia ini, “Demi Allah, seandainya mereka memintaku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, itu lebih mudah bagiku daripada menghimpun Al-Qur`an.”

RESUME THE SWIFT INISIATORS #1



Siapakah para pemuda bergelar The Swift Inisiators? Tema ini menjadi pembahasan di Lesehan Jumat JAN “On Pursuing The Prime Youths” ke 7. Merekalah para pemuda utama, yang tidak mengalami krisis dalam masa mudanya.

Dari arti tiap katanya, “Swift” artinya adalah bergerak atau  mampu bergerak dengan sangat cepat. Sedangkan “Inisiators” adalah menjadi penyebab mulainya sesuatu. Maka, inilah para pemuda yang cepat dalam memulai sesuatu. Tentu, yang kita maksud bukanlah memulai hal-hal yang dilarang oleh agama.

Sebelum membicarakan siapa saja mereka, kita perlu bahas lagi tentang siapa itu yang dimaksud sahabat Rasul?

Menurut Syaikh Al-Utsaimin, sahabat adalah orang yang pernah berkumpul dengan Rasul dan meninggal dalam Muslim pula. Bagaimana kalau meninggal dalam kondisi tidak Islam/ murtad? Dia bukanlah sahabat. Sebaliknya, awalnya bukanlah Muslim, kemudian menjadi Muslim, meninggal dalam kondisi Muslim, dia termasuk sahabat. Contohnya An-Najasy.

Di dalam surat At-Taubah: 100, kita bisa mengetahui pula siapakah para sahabat? Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

Mereka terpuji bersebab pujian langsung yang diabadikan di dalam Al-Qur`an. Merekalah para pemuda utama bersebab hidup bersama manusia terbaik sepanjang masa. Terutama sahabat dari golongan muhajirin dan anshar. Maka, kita ingin jadi bagian dari di antara mereka…

Lalu, bagaimana jika ada orang yang mencela sahabat? Bahkan sahabat yang pernah khilaf mencela sahabat yang lain? Pernah, terjadi perseteruan antara Khalid bin Walid dan Abdurrahman bin ‘Auf sehingga membuat Khalid mencela Abdurrahman bin ‘Auf. Maka Rasulullah menegur Khalid.



Jumat, 22 November 2019

Road Show ADA STORY DI BALIK NGOPI #2 : Kisah-Kisah Gagah Para Pembebas Baitul Maqdis



Baitul Maqdis, negeri yang menyimpan banyak kisah gagah di tiap jengkalnya. Kisah yang menginspirasi generasi demi generasi di tiap aliran masa. Tak lekang, tak hilang, walau kekuatan angkara berusaha memendamnya.

Negeri menyejarah lagi penuh pesona. Pusat keberkahan dunia, yang keberkahannya  meluap-luap ke segenap penjuru dunia.

Maka, sesiapa yang dapat mengambil ibrah serta menghubungkan dirinya, keluarganya, hartanya, bahkan jamaah dan masjidnya dengan Baitul Maqdis, dia akan mendapatkan limpahan keberkahan.. Insya Allah.

Tidakkah kita ingin menyimak kisah-kisah gagah Baitul Maqdis? Yuk, ngopi bareng sambil menyimak kisah gagah Baitul Maqdis  dalam Road Show " Ada STORY di Balik NGOPI #2 : Kisah-Kisah Gagah Para Pembebas Baitul Maqdis "

Jadwal Road Show SA November 2019

📒 Kamis, 21 November
1 Ba'da Maghrib - 20.00 Mushola Al-Mubarak, Temuwuh Kidul
Pembicara:
1. Muhammad Fatan A. Ulum
2. Muhammad Ziyan Makarim

📒 Jumat, 22 November
1 Subuh - 05.30
Masjid At-Tahkim, Ngampilan
Pembicara :
1. Muhammad Fatan A. Ulum
2. Hasan Habib
3. Muhammad Ziyan Makarim

2 16.00 - 17.30
Lesehan Jumat JAN
Pembicara :
1. A Yusuf Wicaksono
2. Nur Akhrommi

3 Bada Isya - Selesai
Masjid Baiturrahim Gejayan
Pembicara :
1. Muhammad Fatan A. Ulum

📒 Sabtu, 23 November
1 Bada Subuh – 05.30
Masjid As-Shiddiq Kajor, Imogiri
Pembicara :
1. A Yusuf Wicaksono

2 19.15 - Selesai
Teras Dakwah
Pembicara:
1. Muhammad Fatan A. Ulum
2. Denis Dinamis

📒 Ahad, 24 November
1 Subuh- 05.30
Mushola Sajada Sonopakis
Pembicara :
1. Muhammad Fatan A. Ulum

2 10.00 - Dzuhur
Masjid Al Mukminum Sampang Sengonkerep Gedangsari
Pembicara :
1. Kholish Chered
2. Denis Dinamis

3 19.30 - Selesai
Masjid Baiturrahman, Bendo, Trimurti,  Srandakan
Pembicara :
1. Denis Dinamis
2. Nur Akhrommi

💡 Fasilitas:
Kopi Arabika gratis

📞 Informasi lebih lanjut: 0853-2968-6654

GRATIS! | Bawa Infaq Terbaik untuk Akhirat Terbaik 🗳

Sebarluaskan, ajak saudara dan kawan-kawan tersayang,  teman serta handai taulan!

Official Account:
.📷 IG: @sahabatalaqsha
.📮 Twitter:  @sahabatalaqsha
.🌏 website: www.sahabatalaqsha.com

Rabu, 20 November 2019

Resume The Islam Inviters #2



“… Allah berfirman, 'Kamu dusta, akan tetapi kamu belajar agar kamu dipanggil 'alim dan kamu membaca al-Qur`an agar dipanggil 'qari dan itu telah dikatakan', kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sehingga dia dicampakkan ke dalam neraka…” (Diriwayatkan oleh Muslim dan an-Nasa'i)

Ketika dakwah mulai berubah arah, maka kita bisa ‘meniteni’, apa yang terjadi pada kita? Apa yang membuat bisa salah arah niat?

Bukan tugas utama kita memikirkan jumlah peserta berapa dalam berdakwah. Bukan pula memikirkan berapa lama kita harus berdakwah. Ini bukan yang utama. Tapi yang utama adalah menyeru dan mengajak orang lain kepada Islam.

Ada orang-orang yang mengajak pada keburukan. Apa itu disebut dakwah? Ya. Tapi dakwah pada keburukan. Merekalah Hizbussyaitan. Para pengikut syaitan. Sedangkan mereka yang berdakwah mengajak kepada kebaikan, merekalah para Hizbullah. Para pengikut Allah.

Dakwah tidak hanya di mimbar-mimbar, tapi mulai dari diri sendiri, kemudian orang lain agar senantiasa kembali kepada Allah dan RasulNya. Dakwah bukan pilihan, tapi kewajiban.

Dakwah adalah dalam rangka agar kita tidak menjadi orang yang rugi. Seperti yang menjadi ciri-ciri di dalam Surat Al-`Ashr. Beriman, berilmu, beramal shaleh, dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3) 

Selain itu, menjadi pendakwah adalah menjadi generasi Rabbani. Apa itu generasi Rabbani? Mereka yang memilki ilmu, kemudian mengajarkannya, serta menjadi pengamal utama ilmu-ilmu tersebut.

Jangan sampai kita mengaku menjadi pendakwah, tapi tidak punya ruh dakwah itu sendiri. Ruh dakwah yang dimiliki para ulama seperti saat zaman perjuangan kemerdekaan terdahulu. Niatnya Lillah dan cara melakukan dakwab sesuai versi Allah.


Resume The Islam Inviters #1




Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy dalam kitabnya “Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga” menuliskan para sahabat muda yang hebat hidupnya. Bukan dari standar sang penulis mereka hebat, tapi yang menyebut mereka hebat dan luar biasa hidupnya adalah Allah dan Rasulullah. Pantaslah kita untuk mengikut jejak hebat mereka.

Di edisi Lesehan Jumat JAN tema “On Pursuing The Prime Youths” #5 ini, kita sudah sampai pada pembahasan “The Islam Inviters”. Merekalah yang menjadi mulia karena dakwah. Mereka mendapat kedudukan utama di mata manusia, apalagi Sang Pencipta.

Tentang The Islam Inviters, pengajak pada Islam, apakah kita menjadi pelakunya? Jika memang iya, pernahkah bertanya pada diri sendiri bahwa kita betul-betul berdakwah? Jangan-jangan kita sudah berdakwah tetapi ternyata kita belum sungguh-sungguh berdakwah.

Kalau kita bicara tentang dakwah, yang melakukan dakwah akan mendapatkan empat hal. Apa itu? Ridha Allah, cinta Allah, rahmat Allah, dan pahala yang tidak terbatas.

“Mengapa kita bela ulama?” Karena, bukankah mereka orang-orang yang mendapatkan keempat hal tersebut? Maka, dengan kita bela ulama, ini adalah dalam rangka mendapatkan ridha Allah, cinta Allah, rahmat Allah, dan pahala yang tidak terbatas.

Ya. Pahala yang tidak terbatas. Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Shallallaahu`alaihi wa Sallam bersabda: ”Apabila anak Adam itu mati, maka terputuslah amalnya, kecuali (amal) dari tiga ini: sedekah yang berlaku terus menerus, pengetahuan yang d manfaatkan, dan anak sholeh yang mendoakan dia.” (HR Muslim)

Jika kita cermati hadits tersebut, minimal manakah yang akan kita usahakan agar mendapatkan pahala yang tidak terbatas? Ilmu. Inilah The Islam Inviters. Pendakwah.

Sebagai pendakwah, dalam janjinya Allah dalam QS Muhammad: 7, “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Tapi ada orang-orang yang di dunia hidupnya untuk menolong agama Allah, tapi di mata Allah menjadi hina. Diseretnya ke neraka dengan kasar. Kenapa? SALAH NIAT.




Selasa, 19 November 2019

Publikasi Lesehan Jum`at JAN: The Battle Warriors




Merekalah pemuda utama yang berjuang dalam peperangan. Bukan demi harta ataupun tahta, tetapi untuk mendapat ridha Allah dan menangnya Islam.

Siapa saja mereka? Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari mereka?

Ikuti:

Lesehan Jum`at JAN

On Pursuing The Prime Youths #8

Merunut Jejak Hebat Para Sahabat

Tema:
The Battle Warriors

Waktu:

JUMAT, 23 November 2019

jam 16.00 - 17.25

Bersama: @emfatan dan @denizdinamiz

Fasilitas:
Snack KHAS
Kopi Arabika “Specialty”
Buletin NAH!

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)

Cara daftarnya mudah:
Bisa langsung via WA dengan format Nama_Alamat kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

Info dan Pendaftaran:
085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS! (PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

More Information:
085600176738 atau 085329686654
t.me/buletinnah
Instagram: @buletinnah@jantraining


Sabtu, 16 November 2019

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN: THE PROPHET DELIGHTERS #3


Oleh: TIM JAN

Para Shahabat Memiliki Kedudukan Tinggi di Sisi Rasulullah

Dalam kitabnya Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy khususnya pada bagian ini, memberikan penyadaran kepada kita, akan kesungguhan mereka untuk bersungguh-sungguh menggembirakan Rasulullah. Apa-apa yang tanggung jawabkan kepada mereka, berusaha mereka taati. Di pembahasan awal kitab ini, Ad-Duwaisy membatasi usia para pemuda yang dimasukkan dalam tulisannya, adalah di bawah duapuluh lima tahun. Usia mereka adalah usia yang layak diperhatikan, diberi tanggung jawab, bahkan amanah-amanah besar dan penuh resiko.

Bahkan, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu mencintai mereka. Beliau memberikan perhatian terhadap mereka, mengutamakan mereka dalam memberikan tanggung jawab dan tugas, percaya, dan memberikan amanah kepada mereka, bahkan beliau mendakwahi mereka.

Lihatlah contoh-contoh kisah ikhtiar para shahabat memberikan kegembiraan kepada Rasulullah. Seakan yang dilakukan shahabat muda ini hanya sederhana, namun Rasulullah begitu menyambutnya dengan penuh perhatian. Apa itu? Mengundang Rasulullah untuk menghadiri jamuan.  Diriwayatkan  dari Abdullah bin Busr Al-Mazini, dia berkata, “Ayahku mengutusku menemui Rasulullah untuk mengundang beliau ke jamuan makan. Beliau datang bersamaku. Ketika telah dekat ke rumah, maka aku mempercepat langkah dan memberitahu orang tuaku.”

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, dia berkata, “Nabi pernah mengirim pasukan dan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglimanya. Orang-orang pun mencela kepemimpinannya. Rasulullah bersabda, “Jika kalian mencela kepemimpinannya, maka kalian juga mencela kepemimpinan bapaknya sebelumnya. Demi Allah, dia (bapaknya) sangat pantas menduduki jabatan panglima dan dia salah seorang yang paling aku cintai. Dan Usamah adalah orang yang paling aku cintai sesudah bapaknya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari. Lihatlah Usamah. Muda. Tetapi sudah siap menerima amanah besar dari Rasulullah, meskipun ada kasak-kusuk tentang dirinya, namun amanah itu tatap dia kerjakan. Ini menjadi bukti bahwa Rasulullah ridha terjadap Usamah, beliau sangat mencintai Usamah. Jika kita cermati, beliau tidak hanya memberinya tanggung jawab besar, tetapi beliau memberikan pembelaan ketika terjadi kasak-kusuk terhadap kepemimpinannya. Ini menunjukkan tingginya kepercayaan Rasulullah terhadap para pemuda shahabat dari Rasulullah, khususnya Usamah.

Kisah terakhir dalam pembahasan singkat ini ialah Zaid bin Tsabit. Dia paling terdepan dalam menuntut ilmu. Kita dengarkan kisah dari Kharijah bin Zaid, dia menuturkan bahwasanya ayahnya, Zaid bercerita kepadanya, “Ketika Nabi tidak di kota Madinah, orang-orang membawaku menghadap beliau. Beliau takjub kepadaku. Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, ini adalah salah seorang anak dari kalangan bani An-Najjar. Dia telah menghafal belasan surat al-Qur’an yang diturunkan kepadamu.  Beliau merasa takjub mendengarnya, lalu bersabda, ‘Wahai Zaid, pelajarilah kitab kaum Yahudi untukku. Sungguh demi Allah, aku tidak percaya dengan orang Yahudi untuk mengurus suratku.’ Zaid berkata, ‘Maka aku pun mempelajari kitab mereka. Tidak berselang lima belas malam, hingga aku berhasil mengusainya. Akulah yang membacakan surat-surat kaum Yahudi yang dikirimkan kepada beliau, dan aku juga yang membalasnya untuk beliau.” Imam Ahmad, Imam Tirmidzi dan Abu Dawud meriwayatkan kisah tersebut.

Sungguh, kedudukan tinggi layak ada pada diri shahabat. Lihatlah Zaid, ketaatannya atas perintah Rasulullah. Bahkan, tidak hanya mentaati, tetapi menyegerakan menyambut dan menuntaskan tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka.

Masih banyak kisah-kisah luar biasa tentang para pemuda shahabat di sisi Rasulullah. Silahkan rujuk langsung kisah-kisah mereka dalam kitab Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga karya Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy halaman 99 sampai 129.

Referensi:

1.       Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Tafsir Al-Quran, 2015, Jakarta: Bandung.
2.       Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Shahih Tafsir Ibnu Katsir, 2008, Bogor; Pustaka Ibnu Katsir.
3.       Khalid Asy-Syantut, Mendidik Anak Laki-Laki, 2017, Solo; PT Aqwam Media Profetika.
4.       Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy, Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga, 2019, Solo; Zam-Zam.



MATERI LESEHAN JUM’AT JAN: THE PROPHET DELIGHTERS #2

Oleh: TIM JAN

Pentingnya Posisi Pemuda dalam Islam

Sebelum melangkah menapaki jejak-jejak pemuda shahabat dalam memberikan kegembiraan kepada Rasulullah, alangkah lebih baiknya kita mengurai singkat posisi pemuda dalam agama Islam. Karena dalam Islam, pemuda bukanlah usia yang dipandang sebelah mata, namun tinggi kedudukannya.

Masa dewasa menurut fuqaha dimulai sejak baligh. Di antara tandanya adalah tumbuh rambut kemaluan. Saat itu seseorang sudah diperhitungkan amal perbuatannya layaknya orang dewasa dalam hukum, termasuk pembunuhan.  Menurut fuqaha, tanda baligh yang paling mudah dikenali adalah keluar mani bagi anak laki-laki dan keluar darah haid bagi anak perempuan. Jika tanda itu tidak muncul, anak dinilai baligh jika usianya sudah mencapai lima belas tahun berdasarkan hitungan kalender Hijriyah. Demikian Khalid Asy-Syantut menjelaskan.

Untuk melengkapi pendapat Khalid Asy-Syantut, ada penjelasan penting yang disampaikan oleh Muhammad Quthb. Beliau mengatakan bahwa ada hal menarik perhatian pada masa baligh ini, shalat, dan puasa menjadi wajib, padahal sebelumnya hanya sebagai kebiasaan saja. Ini mengisyaratkan kepada pemuda dan pemudi, taklif berasal dari Allah yang bisa mendatangkan pahala dan siksa. Selain taklif syar’I, agama Islam juga membebankan taklif duniawi. Sejak saat itu pemuda sudah bertanggung jawab terhadap keluarga dan masyarakat sebagai lelaki dewasa.

Referensi:
1.       Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Tafsir Al-Quran, 2015, Jakarta: Bandung.
2.       Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Shahih Tafsir Ibnu Katsir, 2008, Bogor; Pustaka Ibnu Katsir.
3.       Khalid Asy-Syantut, Mendidik Anak Laki-Laki, 2017, Solo; PT Aqwam Media Profetika.

4.       Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy, Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga, 2019, Solo; Zam-Zam.

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN: THE PROPHET DELIGHTERS #1



Oleh: TIM JAN

Perintah Menggembirakan Rasulullah Dalam Al-Qur’an

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku. Nicaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.”  Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Ali-Imran: 31)

Ayat ini merupakan potongan di mana dengannya kita dapat membedakan orang yangmencintai Allah dengan sebenar-benarnya dengan orang yang hanya sekadar mengaku-ngaku semata. Tanda-tanda kecintaan kepada Allah adalah mengikuti Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menjadikan tindakan Rasulullah dan mengikuti segala seruan beliau sebagai jalan  kepada kecintaan kepada-Nya dan keridhaan-Nya. Oleh karena itu, tidaklah akan diperoleh kecintaan Allah dan keridhaan-Nya serta pahala-Nya kecuali dengan membenarkan apa yang dibawa oleh Muhammad berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan menaati perintah keduanya dan menjauhi larangan keduanya. Demikian penjelasan Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab Tafsirnya.

Lalu, apakah sebenarnya hakikat mengikuti Rasulullah dan bagaimana tata caranya? As-Sa’di memberikan penjelasan menarik, Allah menjawabnya dengan Firman-Nya, “Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya’,” yaitu dengan menaati perintah dan menjauhi larangan serta mempercayai kabar berita.

Siapa sebaik-baik contoh dalam menggembirakan Rasulullah? Tentu saja, merekalah para shahabat beliau. Lebih khusus lagi, para pemuda di kalangan shahabat beliau. Mereka inilah yang sejak mudanya senantiasa berusaha menggapai ridha Rasulullah. Karena mereka paham benar bahwa mewujudkan ridha Nabi menjadi jalan meraih ridha Allah. Allah sering menyandingkan ridha-Nya dengan ridha Rasulullah di dalam kitab suci-Nya.


Referensi:

1.       Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Tafsir Al-Quran, 2015, Jakarta: Bandung.
2.       Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Shahih Tafsir Ibnu Katsir, 2008, Bogor; Pustaka Ibnu Katsir.
3.       Khalid Asy-Syantut, Mendidik Anak Laki-Laki, 2017, Solo; PT Aqwam Media Profetika.
4.       Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy, Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga, 2019, Solo; Zam-Zam.
                

Jumat, 15 November 2019

Lesehan Jum`at JAN: The Swift Inisiators



Ikuti:

Lesehan Jum`at JAN

On Pursuing The Prime Youths #7

Merunut Jejak Hebat Para Sahabat

Tema:
The Swift Inisiators

Waktu:

JUMAT, 16 November 2019

jam 16.00 - 17.25

Bersama: @emfatan dan @denizdinamiz

Fasilitas:
Snack KHAS
Kopi Arabika “Specialty”
Buletin NAH!

Lokasi/ Tempat:
Kantor JAN (Kompleks Pondok Pesantren Rumah Sajada Putra)
atau https://goo.gl/maps/otBder6sQwQ2

Cara daftarnya mudah:
Bisa langsung via WA dengan format Nama_Alamat kirim ke cp pendaftaran. Atau dengan klik link ini: http://bit.ly/lesehanJAN

Info dan Pendaftaran:
085329686654 (putra) atau 085600176738 (putri)

GRATIS! (PENDAFTARAN DITUTUP SAAT KUOTA TERPENUHI)

More Information:
085600176738 atau 085329686654
t.me/buletinnah
Twitter: @buletinnah@JANtraining
Instagram: @buletinnah@jantraining
buletinnah.com