Senin, 25 November 2019

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN THE BATTLE WARRIORS

Oleh: TIM JAN

 Izin Perang dalam Al-Qur’an

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena Sesungguhnya mereka telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (QS. Al-Hajj: 39)
           
Inilah izin yang Allah berikan kepada kaum Muslimin untuk perang. Di awal Islam, kaum Muslimin dilarang untuk memerangi kaum kafir dan diperintahkan untuk bersabar atas gangguan dan tekanan mereka. Tekanan itu mereka (orang-orang kafir) lakukan semenjak Muslimin di Makkah. Ketika Muslimin telah berhijrah ke Madinah penindasan itu tetap dilakukan. Bahkan, kaum kafir Quraiys membuat tipu daya hendak datang ke Madinah dan melakukan penyerangan.
           
Rencana orang-orang Quraisy itu diperkuat dengan pengiriman pasukan kepada Muslimin untuk menyampaikan pernyataan mereka, “Janganlah kalian bangga terlebih dahulu karena bisa meninggalkan kami pergi ke Yastrib. Kami akan mendatangi kalian, lalu merenggut  dan membenamkan tanaman kalian di halaman rumah kalian.” Ancaman ini bisa dicek dalam Kitab Sirah Nabawiyah karya Syeikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri.
           
Kemudian, Allah memberikan izin kepada Rasulullah dan kaum Muslimin untuk memerangi kaum yang melancarkan peperangan kepada mereka. Allah telah memberikan lampu hijau untuk berperang, karena mereka pihak yang terdzalimi, lantaran dihalang-halangi dari menjalankan agama mereka dan disakiti karenanya serta diusir dari kampung-kampung mereka. Demikian Syeikh As-Sa’di menjelaskan dalam Kitab Tafsirnya.

Pemuda Sahabat dan Jihad
           
Kehidupan generasi awal Islam adalah jihad dan pengorbanan di jalan Allah. Kedua hal inilah yang menjadi kesibukan masyarakat Muslim. Sebab membumikan pengaruh agama Islam di tengah masyarakat yang tenggelam dalam kesyirikan dan kesesatan menuntut amunisi berupa jihad, pengorbanan dan darah. Para pemuda shahabat memiliki porsi besar dalam urusan ini, karena kemuliaan jihad telah tertanam kuat dalam diri mereka, bahkan menggetarkan seluruh jiwa raga mereka untuk menyambutnya.
           
Selain para pemuda sahabat, anak-anak pun juga tak mau ketinggalan. Mereka turut ambil bagian, meskipun oleh Rasulullah Shallallahu ‘aialihi wa sallam ditolak. Di antara mereka yang tercatat, di antaranya Al-Bara’ bin Azib dan Rafi’ bin Khadij yang ditolak dalam Perang Badar. Ada juga Arabah bin Aus, Usaid bin Zhuhair bin Rafi’, dan Said bin Yahya yang juga dianggap masih kecil saat Perang Badar. Dalam Perang Uhud, Abu Said Al-Khudri, Zaid bin Arqam, Zaid bin Tsabit juga Rasulullah tolak.
           
Namun, ada masanya mereka diizinkan menjadi bagian dari pasukan perang. Seperti Rafi’ bin Khadij, dia ditolak saat Perang Badar selanjutnya mendapatkan izin saat Perang Uhud. Lain hal dengan Ibnu Umar, dia dianggap kecil dalam Perang Uhud, dan mendapat izin pada Perang Ahzab. Bahkan, ada di antara mereka yang sembunyi di bagian belakang pasukan, dialah Umair bin Abi Waqqash.  Saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau mengeluarkannya dari pasukan. Tapi, Umair memiliki senjata ampuh, yaitu menangis. Hingga akhirnya Rasulullah mengizinkan ikut berperang.
           
Selain mereka ada Salamah bin Al-Akwa’ yang terlibat dalam perang melawan suku Hawazin. Dia disebutkan oleh Rasulullah sebagai sebaik-baik prajurit pejalan kaki. Kisah panjangnya bisa dicek dalam Kitabnya Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy yang berjudul Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga halaman 144.

Para Pemuda Shahabat dan Kebanggaan Jihad
           
Urwab bin Zubair mengisahkan, “Di tubuh Zubair terdapat tiga bekas sabetan pedang; salah satunya ada di pundaknya yang mana aku bisa memasukkan jari-jariku ke bekas luka itu. Dua bekas luka diperoleh pada pertempuran Badar, yang ketiga diperoleh pada pertempuran Yarmuk.” Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
           
Sementara itu di tangan Abdullah bin Abi Aufa ada bekas sabetan pedang di lengannya, Ismail yang menyaksikan itu bertanya, “Apa ini?”, Abdullah menjawab, “Bekas sabetan pedang yang aku dapatkan dalam pertempuran Hunain.” Ismail bertanya lagi, “Kamu ikut dalam pertempuran Hunain?”, Abdullah menjawab, “Iya, juga pertempuran sebelumnya.” Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
           
Saat pertempuran pertama yang diikuti oleh Rafi’ bin Khadij yaitu Uhud, dia terkenan lemparan anak panah. Dia cabut anak panah itu, sedangkan mata panahnya masih tertinggal di daging hingga akhirnya  dia meninggal.  
           
Setelah sebelumnya para pemuda itu memiliki bekas sabetan pedang, kali ini mereka memiliki bukti berupa pedang yang berlumur darah. Abdurrahman bin Auf menceritakan kepada kita tentang mereka. Ketika Abdurrahman bin Auf berada di tengah kecamuknya perang Badar. Dia katakan, seorang anak berdiri di samping kananku dan bertanya kepadaku, “Wahai paman, tunjukkan kepadaku mana Abu Jahal!” Aku balik bertanya kepadanya, “Wahai anakku, ada apa dengan Abu Jahal?” Dia menjawab, “Demi Allah, kalau aku melihatnya, aku tidak akan melepasnya. Dia sering menyakiti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Kemudian ada anak lainnya yang berdiri di samping kiriku menanyakan hal yang sama. Singkat cerita, setelah Abu Jalal telah terlihat, mereka saling mendahului  untuk membunuh Abu Jahal. Kedua anak itu bersegera menemui Rasulullah dan memberitahukan kejadian tersebut. Masing-masing mengatakan, “Aku yang membunuhnya, Wahai Rasulullah!” Beliau bersabda kepada mereka berdua, “Perlihatkan kepadaku pedang kalian!” Beliau melihat bekas darah di kedua pedang itu. Beliau bersabda, “Kalian berdua sama-sama telah membunuhnya.”
           
Bekas-bekas sabetan pedang dan lemparan panah itu menjadi bukti bahwa mereka terlibat dalam jihad. Bahkan, bekas darah yang menempel di pedang mereka tak kalah pentingnya untuk menjadi saksi perjuangan para pemuda shahabat. Mereka menghadiahkan jiwa raga mereka untuk kemuliaan Islam. Masa muda mereka, dihabiskan untuk fii sabilillah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar