Sabtu, 16 November 2019

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN: THE PROPHET DELIGHTERS #3


Oleh: TIM JAN

Para Shahabat Memiliki Kedudukan Tinggi di Sisi Rasulullah

Dalam kitabnya Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy khususnya pada bagian ini, memberikan penyadaran kepada kita, akan kesungguhan mereka untuk bersungguh-sungguh menggembirakan Rasulullah. Apa-apa yang tanggung jawabkan kepada mereka, berusaha mereka taati. Di pembahasan awal kitab ini, Ad-Duwaisy membatasi usia para pemuda yang dimasukkan dalam tulisannya, adalah di bawah duapuluh lima tahun. Usia mereka adalah usia yang layak diperhatikan, diberi tanggung jawab, bahkan amanah-amanah besar dan penuh resiko.

Bahkan, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu mencintai mereka. Beliau memberikan perhatian terhadap mereka, mengutamakan mereka dalam memberikan tanggung jawab dan tugas, percaya, dan memberikan amanah kepada mereka, bahkan beliau mendakwahi mereka.

Lihatlah contoh-contoh kisah ikhtiar para shahabat memberikan kegembiraan kepada Rasulullah. Seakan yang dilakukan shahabat muda ini hanya sederhana, namun Rasulullah begitu menyambutnya dengan penuh perhatian. Apa itu? Mengundang Rasulullah untuk menghadiri jamuan.  Diriwayatkan  dari Abdullah bin Busr Al-Mazini, dia berkata, “Ayahku mengutusku menemui Rasulullah untuk mengundang beliau ke jamuan makan. Beliau datang bersamaku. Ketika telah dekat ke rumah, maka aku mempercepat langkah dan memberitahu orang tuaku.”

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, dia berkata, “Nabi pernah mengirim pasukan dan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglimanya. Orang-orang pun mencela kepemimpinannya. Rasulullah bersabda, “Jika kalian mencela kepemimpinannya, maka kalian juga mencela kepemimpinan bapaknya sebelumnya. Demi Allah, dia (bapaknya) sangat pantas menduduki jabatan panglima dan dia salah seorang yang paling aku cintai. Dan Usamah adalah orang yang paling aku cintai sesudah bapaknya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari. Lihatlah Usamah. Muda. Tetapi sudah siap menerima amanah besar dari Rasulullah, meskipun ada kasak-kusuk tentang dirinya, namun amanah itu tatap dia kerjakan. Ini menjadi bukti bahwa Rasulullah ridha terjadap Usamah, beliau sangat mencintai Usamah. Jika kita cermati, beliau tidak hanya memberinya tanggung jawab besar, tetapi beliau memberikan pembelaan ketika terjadi kasak-kusuk terhadap kepemimpinannya. Ini menunjukkan tingginya kepercayaan Rasulullah terhadap para pemuda shahabat dari Rasulullah, khususnya Usamah.

Kisah terakhir dalam pembahasan singkat ini ialah Zaid bin Tsabit. Dia paling terdepan dalam menuntut ilmu. Kita dengarkan kisah dari Kharijah bin Zaid, dia menuturkan bahwasanya ayahnya, Zaid bercerita kepadanya, “Ketika Nabi tidak di kota Madinah, orang-orang membawaku menghadap beliau. Beliau takjub kepadaku. Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, ini adalah salah seorang anak dari kalangan bani An-Najjar. Dia telah menghafal belasan surat al-Qur’an yang diturunkan kepadamu.  Beliau merasa takjub mendengarnya, lalu bersabda, ‘Wahai Zaid, pelajarilah kitab kaum Yahudi untukku. Sungguh demi Allah, aku tidak percaya dengan orang Yahudi untuk mengurus suratku.’ Zaid berkata, ‘Maka aku pun mempelajari kitab mereka. Tidak berselang lima belas malam, hingga aku berhasil mengusainya. Akulah yang membacakan surat-surat kaum Yahudi yang dikirimkan kepada beliau, dan aku juga yang membalasnya untuk beliau.” Imam Ahmad, Imam Tirmidzi dan Abu Dawud meriwayatkan kisah tersebut.

Sungguh, kedudukan tinggi layak ada pada diri shahabat. Lihatlah Zaid, ketaatannya atas perintah Rasulullah. Bahkan, tidak hanya mentaati, tetapi menyegerakan menyambut dan menuntaskan tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka.

Masih banyak kisah-kisah luar biasa tentang para pemuda shahabat di sisi Rasulullah. Silahkan rujuk langsung kisah-kisah mereka dalam kitab Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga karya Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy halaman 99 sampai 129.

Referensi:

1.       Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Tafsir Al-Quran, 2015, Jakarta: Bandung.
2.       Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Shahih Tafsir Ibnu Katsir, 2008, Bogor; Pustaka Ibnu Katsir.
3.       Khalid Asy-Syantut, Mendidik Anak Laki-Laki, 2017, Solo; PT Aqwam Media Profetika.
4.       Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy, Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga, 2019, Solo; Zam-Zam.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar