Sabtu, 30 November 2019

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN THE TRIAL FIGHTERS


Oleh: TIM JAN
  
Al-Qur’an Bicara Tentang Para Syuhada
           
Inilah para syuhada. Merekalah orang-orang beriman yang gugur di medan pertempuran. Sungguh, mereka tidaklah mati sebagaimana orang-orang mengira. Mereka hidup di sisi Allah ta’ala. Bahkan mereka mendapatkan kenikmatan yang begitu istimewa. Tidakkah kalian dengar firman Allah ta’ala tentang mereka?

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 189-171).

Tingginya Kedudukan Para Syuhada
           
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Ruh seorang mukmin menjadi burung  yang bergelantungan pada pohon surga sebelum Allah mengembalikan kepada jasadya ketika membangkitkan kembali.”
           
Inilah berita gembira bagi setiap mukmin, bahwa ruh mereka berada di surga. Ruh itu juga berpesiar di surga, memakan buah-buahan surga, melihat pemandangan dan keriangan yang ada di sana, serta menyaksikan karunia yang disediakan Allah di surga. Demikian penjelasan Ibnu Katsir terhadap hadits di atas.
           
Dalam riwayat Imam Ahmad, dijelaskan bahwa ruh para syuhada Allah tempatkan dalam tembolok burung hijau. Burung-burung itu mendatangi sungai surga, memakan buah-buahan surga, dan bersarang pada lampu-lampu gantung yang terbuat dari emas di bawah Arasy.
           
Bahkan mereka mengajukan permohonan kepada Allah ta’ala, “Ya Rabbi, kami ingin kiranya Engkau mengembalikan ruh kami ke jasadnya sehingga kami dapat berperang di jalanmu sekali lagi.” Seakan, mengulangi berjuang di jalan Allah, lalu terbunuh untuk yang kedua kali dalam peperangan, itu menjadi kegembiraan mereka. Karena pahala mati syahid memang besar adanya.
           
Selain itu, Syeikh al-Jazairi menjelaskan bahwa orang-orang yang mati syahid akan merasakan kegembiraan yang besar dengan kenikmatan. Apa kenikmatan itu? Beliau mengutip riwayat Imam Tirmidzi, bahwa kenikmatan itu setidaknya ada enam, yaitu dia diampuni dosa-dosanya, diperlihatkan tempatnya di surga, dia diselamatkan dari azab kubur, dia akan aman dari keterkejutan terbesar ketika peniupan sengkakala,  disemaikannya Mahkota Kharisma; yang sebutir permatanya saja jauh lebih baik dari dunia seisinya, dia mendapatkan istri 72 bidadari, dan diizinkan memberikan 70 syafaat kepada keluarga dan kerabatnya.

Para Pemuda Shahabat Siap Menanggung Ujian
           
Jihad menjadi bukti keimanan para pemuda shahabat. Bukan untuk memamerkan kehebatan, namun untuk mengharap wajah Allah ta’ala. Kaki mereka melangkah di dunia, namun angan dan cita mereka menembus negeri akhirat hingga surga tampak di depan mata. Maka, tidak aneh jika mereka bertekad menjadi syuhada. Mereka berperang di jalan Allah, dan gugur karenanya.
           
Ini hanyalah satu dari sekian ujian berat yang harus dihadapai oleh para pemuda shahabat. Ada di antara mereka yang harus terasing karena menyelamatkan keimanan. Keimanan adalah sesuatu yang begitu mahal. Lapar dan fakir seakan menjadi ancaman yang lain, apalagi mereka yang tinggal di shuffah. Banyak dari mereka adalah generasi muda shahabat.
           
Lantas apakah mereka mampu bersabar atasnya? Apakah mereka mampu menghadapi beratnya ujian itu? Jika mereka tak mampu, layakkah mereka disebut generasi terbaik?
           
Inilah kisah-kisah tentang mereka. Berawal dari kabar yang Rasulullah sampaikan, ada pemuda yang kelak akan menemui kesyahidan. Dialah Thalhah bin Ubaidillah. Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesiapa yang ingin melihat seorang yang syahid berjalan di muka bumi, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah.’” Hadits ini diriwatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah.
           
Kita dengar kisah tentang kesyahidan Haritsah bin Ar-Rabi’. “Bahwasanya Haritsah pada Perang Badar menjadi anggota pasukan pengintai.” Tutur Anas radhiyallahu ‘anhu. Saat itu dia masih kecil. Tiba-tiba sebatang anak panah menyambar dan tepat mengenai tenggorokannya. Dia meninggal saat itu juga. Ibunya yaitu Rubayya’ menghampiri Rasulullah seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau telah tahu kedudukan Haritsah di sisiku. Jika dia berada di surga, maka aku merelakannya. Tetapi, kalau tidak, Allah akan melihat apa yang aku lakukan.’ Beliau menjawab, ‘Wahai ibunda Haritsah, surga itu tidak hanya satu. Surga itu banyak. Dia berada di Firdaus, surga tertinggi.” 
           
Ada kisah menarik tentang saudaranya Sa’ad bin Abi Waqqash, yaitu Umair bin Abi Waqqash. Meski masih kecil, dia telah memenuhi hatinya dengan ruh jihad. Sama-sama di perang Badar layaknya Haritsah, Umair mengetahui bahwa dia akan menemui syahid di jalan Allah. Maka,  dia pun bersikukuh untuk ikut serta dalam pertempuran.
           
Sa’ad menceritakan kepada kita kisah Umair, dia berkata, “Aku melihat saudara laki-lakiku, Umair bin Abi Waqqash menyelinap di belakang sebelum Rasulullah memeriksa kami menjelang pertempuran Badar. Aku bertanya, ‘Ada apa denganmu wahai saudaraku?’ Dia menjawab, ‘Aku khawatir jika Rasulullah melihatku dan menganggapku masih kecil, lalu menolak kehadiranku. Padahal, aku sangat ingin ikut berperang. Semoga Allah mengaruniakan kesyahidan kepadaku.’ Lalu, dia dihadapkan kepada Rasulullah. Beliau menganggapnya masih kecil, sehingga mengembalikannya pulang. Umair menangis, hingga akhirnya beliau mengizinkan. Akulah yang mengikat gagang pedangnya karena begitu kecilnya dia. Akhirnya dia terbunuh di usia 16 tahun.’”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar