Senin, 25 November 2019

RESUME THE SWIFT INISIATORS #2



Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘ahnu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya. (HR. Al-Bukhari).

Bismillah. Mari kita pelajari satu sahabat yang bukan mulia karena hartanya, bukan pula karena pernikahannya atau tahtanya. Tapi mulia karena imannya.

Pemuda ini berbadan kurus, kecil, dan saat itu usianya masih 13 tahun. Adakah kalian berumur 13 tahun? Atau lebih? Tapi, meski umurnya 13 tahun yang tergolong masih kecil, sungguh pikirannya jauh “lebih dari itu”. Saat itu, pasukan kaum Muslimin sedang bersiap untuk Perang Badar.

Ia sangat antusias ingin ikut. Ya, sahabat muda berumur 13 tahun ini ingin menjadi barisan muslimin dalam perang Badar. Namun, Rasulullah menolak Zaid sebagai bagian dari pasukan muslimin.

Mendapat penolakan ini, Zaid pulang dan mengadu kepada ibundanya, Nawwar bin Malik. An-Nawwar memberikan nasihat kepada Zaid, ''Jangan bersedih, engkau bisa membela Islam dengan cara lain. Jika tidak mungkin dengan jihad ke medan perang, cobalah berjihad melalui lisan atau tulisan.''

Kemampuan yang sangat jarang saat itu adalah kemampuan baca tulis. Dan Zaid mengambil peran itu. Bukan syahid di perang Badar. Zaid mempelajari baca tulis sampai menjadi ahli di bidangnya. Setelah itu, Rasulullah memberikan amanah untuk mempelajari bahasa Ibrani (Yahudi) dan Suryani. Zaid pun mampu menguasainya dalam waktu yang tidak lama …

Jadilah Zaid bin Tsabit sebagai penulis wahyu yang mashur. Dialah notulennya Rasulullah. Sang penghimpun Al-Qur`an. Zaid pernah melukiskan kesulitan menjalankan tugas mulia ini, “Demi Allah, seandainya mereka memintaku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, itu lebih mudah bagiku daripada menghimpun Al-Qur`an.”

Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘ahnu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya. (HR. Al-Bukhari).

Bismillah. Mari kita pelajari satu sahabat yang bukan mulia karena hartanya, bukan pula karena pernikahannya atau tahtanya. Tapi mulia karena imannya.

Pemuda ini berbadan kurus, kecil, dan saat itu usianya masih 13 tahun. Adakah kalian berumur 13 tahun? Atau lebih? Tapi, meski umurnya 13 tahun yang tergolong masih kecil, sungguh pikirannya jauh “lebih dari itu”. Saat itu, pasukan kaum Muslimin sedang bersiap untuk Perang Badar.

Ia sangat antusias ingin ikut. Ya, sahabat muda berumur 13 tahun ini ingin menjadi barisan muslimin dalam perang Badar. Namun, Rasulullah menolak Zaid sebagai bagian dari pasukan muslimin.

Mendapat penolakan ini, Zaid pulang dan mengadu kepada ibundanya, Nawwar bin Malik. An-Nawwar memberikan nasihat kepada Zaid, ''Jangan bersedih, engkau bisa membela Islam dengan cara lain. Jika tidak mungkin dengan jihad ke medan perang, cobalah berjihad melalui lisan atau tulisan.''

Kemampuan yang sangat jarang saat itu adalah kemampuan baca tulis. Dan Zaid mengambil peran itu. Bukan syahid di perang Badar. Zaid mempelajari baca tulis sampai menjadi ahli di bidangnya. Setelah itu, Rasulullah memberikan amanah untuk mempelajari bahasa Ibrani (Yahudi) dan Suryani. Zaid pun mampu menguasainya dalam waktu yang tidak lama …

Jadilah Zaid bin Tsabit sebagai penulis wahyu yang mashur. Dialah notulennya Rasulullah. Sang penghimpun Al-Qur`an. Zaid pernah melukiskan kesulitan menjalankan tugas mulia ini, “Demi Allah, seandainya mereka memintaku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, itu lebih mudah bagiku daripada menghimpun Al-Qur`an.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar