Sabtu, 07 Desember 2019

MATERI LESEHAN JUM’AT JAN : THE SIN REDEEMERS



Oleh: TIM JAN

Kemuliaan Mereka yang Bertaubat

Tidak ada jalan menuju keberuntungan kecuali dengan taubat. Bukankah ini kabar gembira yang layak disegerakan oleh pelakunya?

Sebagaimana yang Allah ta’ala kabarkan dalam firman-Nya,
Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31)

Apa maksudnya? Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan keberuntungan. Ya, beruntung dengan taubat mereka. Beruntung telah Allah beri kesempatan untuk kembali di jalan Allah bahkan ia mendapat kunci masuk surga. Mereka kembali dari hal-hal yang dibenci oleh Allah, baik lahir atau batin menuju perkara-perkara yang Dia cintai, baik secara lahir maupun batin. Keterangan ini menandakan  bahwa setiap Mukmin membutuhkan taubat. Demikian Syeikh As-Sa’di menerangkan. Maka, setinggi-tinggi keimanan, keshalihan dan ketakwaan yang dicapai seseorang, tidak mengantarkan mereka pada tingkatan ma’shum. Terjaga dari kesalahan. Bahkan, hal itu tidak menjamin untuk tidak terjerumus ke dalam perbuatan dosa. Kecuali mereka para nabi dan rasul. Karena Allah telah ampuni kesalahan-kesalahan mereka.

Apabila seorang muslim melakukan kesalahan atau kemaksiatan, dia wajib segera bertaubat kepada Allah ta’ala. Baik dalam bentuk meninggalkan kewajiban yang disyariatkan, atau melanggar larangan dari Allah ta’ala. Baik dosa kecil maupun dosa besar. Imam An-Nawawi menjelaskan, jika dosa yang dilakukan seorang hamba kepada Allah dan tidak ada kaitannya dengan sesama hamba, maka taubatnya mempunyai tiga syarat. Yaitu, menghentikan maksiat yang ditaubati, menyesal karena telah melaksanakannya, dan bertekad tidak mengulanginya. Lantas, semua syarat harus terpenuhi. Jika perbuatan dosa itu menyangkut sesama hamba, maka syaratnya ditambah satu, yaitu menyelesaikan urusannya disertai permintaan maaf kepada orang yang bersangkutan.

Pujian Allah atas Taubatnya Para Pemuda Shahabat

Andai seseorang terbebas dari dosa, lantas apa yang akan mereka lakukan? Apakah mereka akan hidup seenaknya, atau mereka tidak lagi berbuat ketaatan, atau mungkin terus berbuat maksiat tanpa henti? Ada kondisi yang berlainan daripada perkiraan itu, kita saksikan gurunya para shahabat, yang telah Allah ampuni kesalahannya, namun kalimat istighfar senantiasa keluar dari lisannya. Dialah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Demi Allah, sungguh aku benar-benar memohon ampunan dan bertobat kepada Allah, dalam sehari, lebih dari 70 kali.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah.

Lantas bagaimana dengan para shahabat dan taubat mereka? Bukankah mereka sangat dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Kita tidak pungkiri, bahwa para shahabat adalah teladan dalam keimanan, keshalihan, dan ketakwaan. Merekalah generasi terbaik yang menganggap besar perbuatan dosa. Namun, mereka pun juga tak luput dari kesalahan. Mereka senantiasa bersegera dengan ketinggian imannya bertaubat kepada Allah ta’ala.

Muhammad Abdullah As-Duwaisy memberikan komentar menarik. Mereka adalah manusia yang mencapai tingkat tertinggi dalam membentengi diri dari dosa, mereka pula orang-orang yang banyak bertaubat dan mensucikan diri. Mereka adalah orang-orang yang mendapat sanjungan dari Allah ta’ala. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222).

Para Shahabat dan Taubat Mereka

Perlu digaris merah dan tebal, bahwa mereka para shahabat begitu dekat dengan taubat dan kesungguhan mensucikan diri. Tidak hanya dari generasi tuanya, pun para pemudanya. Berikut nama-nama mereka yang bersungguh-sungguh untuk kembali mencapai keridhaan Allah ta’ala. Ada Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’, dan Hilal bin Umayyah yang tidak terlibat dalam perang Tabuk, yang dengan hati tulus memohon ampun kepada Allah ta’ala. Ada pula Abu Lubabah, yang “berkhianat” ketika ditanya oleh kaumnya; Yahudi Bani Quraidzah, dan beliau pun memohon ampun kepada Allah hingga dia mengikat tubuhnya di tiang masjid Nabawi. Ada pula Abdullah bin Umar, dan Usamah bin Zaid. Tentu kisah taubatnya para shahabat tidak hanya itu, di sini kita hadirkan kisah dua pemuda dari kalangan mereka.

Dari Abdullah bin Umar, dia berkata, “Aku pernah ikut dalam pasukan perang yang dikirim oleh Rasulullah. Lalu, sebagian pasukan melarikan diri dan aku termasuk di antara mereka. Kami saling bertanya, ‘Apa yang mesti kita lakukan. Kita telah melarikan diri dari medan pertempuran dan kita kembali dengan mendapat murka? Kami berkata, ‘Bagaimana kalau kita kembali ke Madinah dan bermalam di sana?’ Selanjutnya kami berkata, ‘Bagaimana kalau kita menghadap Rasulullah, mungkin saja beliau sudi memaafkan kita. Jika tidak, maka kita akan pergi.’ Maka, kami menghadap beliau sebelum shalat subuh. Beliau bertanya, ‘Siapa kalian?’ Kami menjawab, ‘Kami adalah orang-orang yang melarikan diri dari pertempuran.’ Beliau bersabda, ‘Tidak, bahkan kalian adalah orang-orang yang maju menyerang. Aku termasuk kelompok kalian dan aku termasuk kelompok kaum muslimin.’ Lalu, kami mendekatkan diri kepada beliau, hingga kami mencium tangan beliau.

Usamah bin Zaid menyadari betapa besar dosa yang telah dia perbuat. Dia tidak bisa memandang remeh dosanya ketika dia membunuh seseorang yang telah menyatakan, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah. Nabi mengingkari apa yang dilakukan Usamah dan marah kepadanya. Sampai-sampai, Usamah berkata, “Sampai-sampai, aku berangan-angan bahwa aku belum masuk Islam hingga hari itu.”

Menyadari besar dan nistanya dosa menjadi bukti kebenaran iman dan takut kepada Allah. Dan itu yang tertanam dalam diri para shahabat, termasuk para pemudanya.

Referensi:
  1. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Tafsir Al-Quran, 2015, Jakarta; Darul Haq.
  2. Syaikh Musthafa Dib Al-Bugha, Syarah Riyadush Shalihin Jilid 2, 2011, Yogyakarta; Pro-U Media.
  3. Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, 2008, Jakarta Timur; Pustaka Al-Kautsar.
4.       Muhammad Abdullah Ad-Duwaisy, Gaya Hidup Pemuda Perindu Surga, 2019, Solo; Zam-Zam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar